(Tulisan tak penting...)
Seorang laki-laki nampak keluar dari rumah
kontarakannya, ditatapnya langit, penuh dengan mendung berarak dari barat
ketimur. Dengan malas Ia pun meninggalkan rumah yang sudah dikontaraknya dua
tahun belakangan, cuaca seperti ini merupakan hal yg menjengkelkan, karena itu
merupakan ‘musuh’ baginya.
15 menit kemudian, sampailah dia di sebuah tempat
yang menjadi tumpuan bagi pendapatannya. Sekitar delapan lapak berjajar rapi di
sana. ada Soto, Somai, Jagung keju, Es Belended, Es Coffee, Mie ayam, Tahu Bumbu
Khas jawa timur dan Lotek. Dengan murung Ia menuju salah satu lapak yg berjajar
rapi itu, “eee.. anak muda baru bangun ya, jam gini baru datang”, seorang bapak
pemilik salah satu lapak menyambutnya, sebuah kalimat yg hampir rutin didengarnya
setiap kali Ia mulai aktifitas di tempat itu, si laki2 hanya berusaha tersenyum
sambil mempersiapkan dagangannya, sementara para pemilik lapak lain pada sibuk
melayani pembeli. Gerimispun mendadak turun.
Semua pemilik lapak semakin sibuk, berusaha sebaik
mungkin melayani para pembeli yg mayoritas bersepatu dan bawa buku itu, agar
mereka secepat mungkin menikmati pesanannya. Gerimispun berlanjut, Si laki2
semakin oga-ogaan menata daganggannya.
Tiba2 terdengar suara, “pak mau pesan”, tanpa menoleh
pd yg punya suara, Si laki2 menjawab “ya.. pesan apa?”,
Mendangar suara si penjual calon pembeli itu mengubah pangilannya “eh
maaf mas, saya kira pak, di sini minumnya apa saja ya mas?”,
Si laki2 tidak terpengaruh, walau ditempat itu amat jarang yg
memangilnya dengan pangilan Mas,