Kamis, 26 April 2012


Perpindahan yang syahdu

Awal bulan ini, merupakan hari-hari yang mencemaskan sebagian dari kami. Bagaimana tidak, berita itu datang tiba-tiba, padahal kami sudah dua tahunan, belajar, makan, memasak, bercengkrama, bersendau-gurau, merancang agenda-agenda kegiyatan dan merasakan pahit-manis hidup bersama, satu atab lagi (wah kok jadi melankolis begini ya..?).
Berawal dari beberapa teman yang di”paksa” pergi/pindah (termasuk diriku),  berlanjut semuanya harus pindah, karena yang punya tempat akan menempati tempat tsb dalam jangka waktu 2/3 bulan lagi. Bagi enam orang dari kami, yang tidak mungkin lagi bergabung dengan saudara-saudara yang lain (yang sudah ada tempat), tambah cemas lagi. Karena kami harus mencari tempat tinggal sendiri, dan tidak diberi kepastian, kapan yang punya tempat mau menempati tempat miliknya itu.

Rabu, 25 April 2012

Klaten diawal Maret 2012



Ada yang beda dikampungku hari ini, nuansa yang tidak biasa itu sudah kucium sajak sore tadi, Saat aku datang di kampung ini, tempat dimana aku dilahirkan sekitar 29 tahun yang lalu. Waktu aku memasuki desa, melawati jalan yang kanan kirinya persawahan itu, aku sudah merasakan aroma yang khas, aroma pohon padi yang sudah mulai menguning. Waktu menikmati bau itu, ada semacam perasaan datang. Perasaan yang dapat melupakan sesuatu yang menjemukan, menghilangkan kejengkelan, melenyapkan ketakutan-ketakutan tentang hidup, munculnya sebuah harapan, atau semacam itulah… (atau mungkin juga aku melebih-lebihkan, barang kali…). Tapi, yang jelas aku dapat benar-benar tersenyum sore itu.
Bukan senyum yang dibuat-buat, seperti seyuman para seles yang menawarkan barang daganggannya, yang sering mampir ketempat kerjaku, senyuman sok akrap kepada calon konsumen. Juga bukan senyuman yang simetris, kekiri satu senti dan kekanan satu senti, seperti senyum yang diajarkan oleh para trainer (yang sudah kondang beneran ataupun trainer yang benar-benar bajakan), jujur aku tidak sepakat dengan ajaran mudel ini, senyuman sok ganteng/cantik, sok bahagiya, sok berhasil dan sok imut tentunya (senyuman yang harus dilatih rutin setiap pagi didepan kaca, agar dapat “menyihir” lawan bicaranya). Karena seingat saya, aku pernah menemukan senyuman seorang laki-laki berumur 20an yang tidak simetris, tapi agak condong kearah kiri, namun dengan senyum yang jauh dari simetris itu, ada keindahan yang tidak terkira terpancar dari wajahnya, benar-benar senyuman yang hadir dari keluguan dan kelembutan hati, (aku sangat yakin, senyum itu tidak dilatihnya setiap bangun tidur dipagi hari). Atau juga bukan semacam senyuman gadis-gadis manis di supermarket-supermarket, di Mol-mol atau di tempat-tempat semacamnya, benar-benar senyuman yang syarat dengan pamrih. Sungguh aku merasa “geli” bila melihat senyum yang satu ini. Eh.. maaf, bukan maksut hati membahas macam-macam senyuman dalam tulisan ini. Tapi ini sebagai pelengkap saja, ibarat kita sedang makan, ini sebagai kerupuk...