Rabu, 25 April 2012

Klaten diawal Maret 2012



Ada yang beda dikampungku hari ini, nuansa yang tidak biasa itu sudah kucium sajak sore tadi, Saat aku datang di kampung ini, tempat dimana aku dilahirkan sekitar 29 tahun yang lalu. Waktu aku memasuki desa, melawati jalan yang kanan kirinya persawahan itu, aku sudah merasakan aroma yang khas, aroma pohon padi yang sudah mulai menguning. Waktu menikmati bau itu, ada semacam perasaan datang. Perasaan yang dapat melupakan sesuatu yang menjemukan, menghilangkan kejengkelan, melenyapkan ketakutan-ketakutan tentang hidup, munculnya sebuah harapan, atau semacam itulah… (atau mungkin juga aku melebih-lebihkan, barang kali…). Tapi, yang jelas aku dapat benar-benar tersenyum sore itu.
Bukan senyum yang dibuat-buat, seperti seyuman para seles yang menawarkan barang daganggannya, yang sering mampir ketempat kerjaku, senyuman sok akrap kepada calon konsumen. Juga bukan senyuman yang simetris, kekiri satu senti dan kekanan satu senti, seperti senyum yang diajarkan oleh para trainer (yang sudah kondang beneran ataupun trainer yang benar-benar bajakan), jujur aku tidak sepakat dengan ajaran mudel ini, senyuman sok ganteng/cantik, sok bahagiya, sok berhasil dan sok imut tentunya (senyuman yang harus dilatih rutin setiap pagi didepan kaca, agar dapat “menyihir” lawan bicaranya). Karena seingat saya, aku pernah menemukan senyuman seorang laki-laki berumur 20an yang tidak simetris, tapi agak condong kearah kiri, namun dengan senyum yang jauh dari simetris itu, ada keindahan yang tidak terkira terpancar dari wajahnya, benar-benar senyuman yang hadir dari keluguan dan kelembutan hati, (aku sangat yakin, senyum itu tidak dilatihnya setiap bangun tidur dipagi hari). Atau juga bukan semacam senyuman gadis-gadis manis di supermarket-supermarket, di Mol-mol atau di tempat-tempat semacamnya, benar-benar senyuman yang syarat dengan pamrih. Sungguh aku merasa “geli” bila melihat senyum yang satu ini. Eh.. maaf, bukan maksut hati membahas macam-macam senyuman dalam tulisan ini. Tapi ini sebagai pelengkap saja, ibarat kita sedang makan, ini sebagai kerupuk...
 

Disore itu, perasaan bangga juga muncul, daerahku merupakan salah satu lumbung padi Jawa Tengah. Waktu aku memasuki Desa sampai di Rumahku, perbedaan itu semakin mencolok, sama sekali tidak seperti biasanya. Warga Desa menjadi ramah sekali, dan keceriyaan menghingapi tingkah laku orang-orang Desa, dari anak kecil sampai orang dewasa, dari remaja putra hingga remaja putri, semuanyalah… pokoknya. (namun, aku rasa ini bukan bentuk keberhasilan para da’i komersil di TV-TV, atau buku-buku yang bertemakan Latanza/motivasi, yang mengajarkan para pemirsa dan pembacanya untuk selalu ramah dan meninggalkan kesedihan).
Di malam harinya aku baru tahu, keceriyaan serta kebahagiyaan mereka tak lepas dari padi-padi mereka yang mulai menguning. Sekitar dua minggu lagi, bisa dipastikan panen raya akan terjadi di tempat kelahiranku. Perkiraan saya, diwaktu itu merupakan puncak keceriyaan sekaligus mekar-mekarnya senyuman masyarakat di Kampungku. Ingin sekali aku tetap disini, tidak melewatkan kejadian itu, berada ditengah-tengah orang-orang pingiran/rakyat kecil yang sedang berbahagiya. Waktu menulis alinia ini, aku jadi ingat lagunya Bang Iwan Fals, yang judulnya “Potret panen-mimpi”, segera aku ganti lagu caping gunung-nya mantos, yang telah mengalun di winamp komputerku dengan lagunya Bang Iwan tersebut, aku putar berulang-ulang seharian penuh, tidak ada teman pondokan yang berani mengantinya, bahkan teman sekamarku sekalipun.

                                        
Suka-cita itu semakin bisa aku maklumi. Bayangkan saja, empat musim tanam padi sebelum musim panen ini, para petani di Desaku dan sekitarnya tidak bisa menikmati hasil keringatnya. Karena serangan hama wereng yang tidak dapat diatasi, masa-masa itulah yang dinamakan orang-orang desa sebagai masa paceklik, masyarakat Desa hampir satu tahun melewati masa sulit tersebut, diantara tahun 2011-awal 2012 (pembicaraan tentang masa ini, mungkin lebih jauh akan saya tulis dikesempatan yang lain). Berkenaan dengan hama wereng, pihak yang berwenang hanya penyuluhan dan penyuluhan melulu, tidak ada tindakan nyata. Terus terang, aku jadi semakin bosan dengan mereka. Tapi anehnya…, masyarakat Desa tidak bosan, tetap saja banyak masyarakat yang hadir bila diundang oleh pihak yang berwenang, untuk penyuluhan atau tepatnya memberikan pengarahan-pengarahan, walaupun hasilnya tetap saja nihil (dan jujur, aku jadi tidak bisa berkomentar tentang sikap masyarakat akan hal ini).
Kira-kira seminggu sebelum kejadian ini, aku sempat membaca sebuah berita di salah satu surat kabar nasional. Dalam berita itu, ditulis mengenai komentar seorang pejabat tentang setok beras nasional, pejabat itu kurang-lebih berbicara begini, “…setok beras kita tahun ini mengalami surplus, sehingga cukup untuk 2-3 dasawarsa kedapan, dan kira-kira satu bulan lagi, dibeberapa daerah akan panen raya, sehingga persedian beras kita tidak perlu diresahkan...”, (dalam bayangan saya, dan semoga saja salah. Pejabat itu berbicara dengan banganya, seolah-olah ingin menunjukkan kesemua orang, bahwa surplus beras dan panen raya adalah hasil keringatnya, padahal di tempat saya hanya pengarahan dan pengarahan, tidak bisa mengatasi hama Wereng).
Aku pun jadi heran, tahun-tahun lalu mulai tahun 90an, seingat saya tidak pernah negeri ini kekurangan beras, lantas,.. siapa yang resah yang dimaksut pejabat itu?. Kalau ada surplus beras dan ada panen raya, mengapa selalu ada berita tentang impor beras dari bangsa lain?. Bila mengingat masalah ini, wah..! kebahagiyaan dan senyum  imut-ku jelas-jelas ternodai….

Klaten-Jokja, 03/03/2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar