“Berada dipuncak tertinggi, di antara bentangan bukit-bukit hijau,
tebing-tebing menjulang, batu-batu besar yang angker dan merasakan lembutnya belaian
kabut yang terhempas”
Ah..
rasanya ada sesuatu yang masuk ke dada dan menetralkan segala racun hidup dalam
tubuh. selepas itu, aku benar2 bisa memahami betapa kecilnya manusia sekaligus
merasakan betapa tak bergunanya laki-laki macam diriku. Itulah alasan mengapa
saya dulu kecanduan melakukan pendakian.
Alasan ini
tentunya tidak seragam dengan temen2 lain yang juga suka naik gunung. Ada teman
yang demen naik gunung hanya karena merasa nyaman setelah bangun bagi diatas
gunung, ada juga yang suka naik gunung karena makan apa saja diatas gunung itu
nikmatnya ndak ketulungan, termasuk menikmati copi dikedinginan dibawah
rata-rata sambil meresapi adiluhungnya karya tuhan (seperti teman saya Dias Eka
Saputra), ada juga yg hobi mendaki hanya gara2 tenang dan damai berada di
antara rimba bunga abadi.
Ah.. bunga
abadi, saya sebetulnya tidak tergoda dengan bunga macam begini, walau akhirnya
diam-diam mengaguminya.