Minggu, 07 Juli 2013

Kangen



Berada dipuncak tertinggi, di antara bentangan bukit-bukit hijau, tebing-tebing menjulang, batu-batu besar yang angker dan merasakan lembutnya belaian kabut yang terhempas”

Ah.. rasanya ada sesuatu yang masuk ke dada dan menetralkan segala racun hidup dalam tubuh. selepas itu, aku benar2 bisa memahami betapa kecilnya manusia sekaligus merasakan betapa tak bergunanya laki-laki macam diriku. Itulah alasan mengapa saya dulu kecanduan melakukan pendakian.
Alasan ini tentunya tidak seragam dengan temen2 lain yang juga suka naik gunung. Ada teman yang demen naik gunung hanya karena merasa nyaman setelah bangun bagi diatas gunung, ada juga yang suka naik gunung karena makan apa saja diatas gunung itu nikmatnya ndak ketulungan, termasuk menikmati copi dikedinginan dibawah rata-rata sambil meresapi adiluhungnya karya tuhan (seperti teman saya Dias Eka Saputra), ada juga yg hobi mendaki hanya gara2 tenang dan damai berada di antara rimba bunga abadi.
Ah.. bunga abadi, saya sebetulnya tidak tergoda dengan bunga macam begini, walau akhirnya diam-diam mengaguminya.

Andelwaes itulah nama latin bung yang satu ini, Dulu sebelum aku tahu wujud bunga yang bisa hidup di ketinggian 2000an meter diatas permukaan laut tersebut, aku selalu membayangkan betapa indah bentuknya, betapa cantik warnanya dan betapa harum baunya. Bayangkan saja, dia punya gelar bunga abadi, begitu sempurna julukan itu, saya kira kalian sepakat.
 (oya sori.. sepetulnya agak kekuk juga nulis tentang bunga, ndak tahu kenapa, padahal ini tentang bunga yang sebenarnya, bukan bunga Bank/macam bunga deposito (apa lagi Bunga Desa….) yang banyak digandrugi orang, padahal tidak halal.. he..he.. maf kalo sok tahu lho ya….tapi dibanding sama bunga bank, lebih baik  tuh “bunga” lagunya bang Iwan Fals “Bunga trotoar”…)
          Lhoh.. ni kok jadi bahas tentang bunga ya..? padahal niatku tidak nulis tentang bunga, wah.. kacauuu ni.. tpi ndak palah, teruskan aja.. lagian saya lupa tadi sebenarnya ingin membahas apa.
          Bagi teman2 yang hobi/pernah naik gunung, tentu tidak asing dengan bunga yang didominasi warna putih ini. Pertama kali saya melihatnya di puncak gunung Lawu (3400an M diatas permukaan laut). Di gunung tertinggi nomor tiga sejawa inilah pertama kali melihat sekaligus menyentuhnya. Sebetulnya waktu itu aku kecewa, ternyata dari segi fisik, warna dan baunya sama sekali tidak cocok dengan bayangganku, “ah.. tak ada yang menarik dari bunga ini” komentarku. Setelah itu, setiap pendakian saya kurang memperdulikannya.
          Tapi berbeda dengan lima bulanan yang lalu, saat saya dengan beberapa teman baruku berhasil menginjak Centeng songgo (pucak Merbabu), di tempat itu Andelwaes tumbuh dengan baik, hamparan pohonnya sering aku dapati, berbeda di puncak lawu 13san tahun silam, seingatku bunga ini disana terbatas. Di puncak merbabu sewaktu semua temanku berebut bunga abadi yang sudah mekar (dari fisiknya walaupun sudah mekar sempurna, bagi ku bunga ini tatap tidak menarik), tiba2 aku jadi berpikir dan membanding2kannya dengan bunga lain. Bila dibandingkan dengan bunga mawar, melati, bahkan bunga kamboja sekalipun, fisik bunga abadi menurutku masih jauh di bawahnya, jadi kesimpulanya klise saja, ‘fisik yang menawan maupun bau yang harum’, belum tentu abadi. Mungkin hal ini yg mebuatku diam2 kesem-sem sama bunga ini.
          Satu2nya kelebihan bunga Andelwaes ialah, ia mampu bertahan bertahun2 melekat di tangkainya, wah.. kalo dari segi itu, Andelwaes benar2 bunga yang tidak ada duanya, abadii…
Kala aku tanya Beben (temanku yg mengajak aku naik gunung ini), tentang bunga abadi, dia sok tau, “lha… mengapa kau masih meragukan keindahan bunga abadi, kau sadar ndak sih..?”, “lha ya.. apanya yang indah?”, “lha… abadinya itu, yang bikin banyak orang tergila-gila”, “oo.. begitu ya,,?”, “tidak hanya itu, bunga abadi sangat2 tahan menderita”, “kok bisa?”, sautku, “pikirkan saja, Andelwaes hidupnya diatas gunung, kau tahukan dimana keadaan diatas gunung, sepi-senyap, dinginnya minta ampun, udaranya tidak bersahabat, dan di terpa berbagai macam cuaca, tapi ia masih tetap saja tumbuh dipuncak gunung.. manusia tidak akan sangup seperti itu… ha.. gimana lo.. pahamkan?”, aku Cuma mengerutkan dahi sambil mengganguk saja, mendengar temanku itu bicara persis seorang guru memberikan materi didepan murit2nya (maklum dia Mahasiswa pendidikan Man..)
Waktu perjalanan menuruni gunung, saya belum puas membahas tentang Andelwaes dengan beben, “Ben! tapikan dia tumbuhan,, ya biasalah ia bisa tahan hidup diatas Gunung”, “ah.. masih belum terima juga kau ruapanya”, jawabnya dengan ‘ketus’, dia melanjutkan, “justru itu, karna ia hanya tumbuhan, seharusnya manusia lebih kuat dari dia”, “kuat dimana maksutmu”, “ya.. kuat menikmati segala kerunyaman hidup,, ah gitu aja minta penjelasan..”. Busett.. cerdas juga ini anak, saya jadi melonggo  dan mangut2 saja.

Sepulang dari gunung merbabu, tak mengubah pendirianku tentang bunga abadi. Dan setelah 5 bulanan tak mendaki, rasa kangen memporak-porandakan perasaan saya, rasanya racun hidup telah beranak-pinak dalam tubuh, dan mendesak untuk dinetralkan kembali. Kini selalu terbayang olehku, betapa syahdunya berjalan sempoyonggan menuju puncak tertingi sambil bercumbu dengan kabut yang terhempas.

To beben… bocah tengik kau ben.. kemarin naik selamet tidak ajak-ajak.. awas kau…..!!!!!!!!!!!!!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar