“Berada dipuncak tertinggi, di antara bentangan bukit-bukit hijau,
tebing-tebing menjulang, batu-batu besar yang angker dan merasakan lembutnya belaian
kabut yang terhempas”
Ah..
rasanya ada sesuatu yang masuk ke dada dan menetralkan segala racun hidup dalam
tubuh. selepas itu, aku benar2 bisa memahami betapa kecilnya manusia sekaligus
merasakan betapa tak bergunanya laki-laki macam diriku. Itulah alasan mengapa
saya dulu kecanduan melakukan pendakian.
Alasan ini
tentunya tidak seragam dengan temen2 lain yang juga suka naik gunung. Ada teman
yang demen naik gunung hanya karena merasa nyaman setelah bangun bagi diatas
gunung, ada juga yang suka naik gunung karena makan apa saja diatas gunung itu
nikmatnya ndak ketulungan, termasuk menikmati copi dikedinginan dibawah
rata-rata sambil meresapi adiluhungnya karya tuhan (seperti teman saya Dias Eka
Saputra), ada juga yg hobi mendaki hanya gara2 tenang dan damai berada di
antara rimba bunga abadi.
Ah.. bunga
abadi, saya sebetulnya tidak tergoda dengan bunga macam begini, walau akhirnya
diam-diam mengaguminya.
Andelwaes
itulah nama latin bung yang satu ini, Dulu sebelum aku tahu wujud bunga yang
bisa hidup di ketinggian 2000an meter diatas permukaan laut tersebut, aku
selalu membayangkan betapa indah bentuknya, betapa cantik warnanya dan betapa
harum baunya. Bayangkan saja, dia punya gelar bunga abadi, begitu sempurna
julukan itu, saya kira kalian sepakat.
(oya sori.. sepetulnya agak kekuk juga nulis tentang bunga, ndak
tahu kenapa, padahal ini tentang bunga yang sebenarnya, bukan bunga Bank/macam
bunga deposito (apa lagi Bunga Desa….) yang banyak digandrugi orang, padahal tidak halal.. he..he.. maf kalo sok tahu
lho ya….tapi dibanding sama bunga bank, lebih baik tuh “bunga” lagunya bang Iwan Fals “Bunga
trotoar”…)
Lhoh..
ni kok jadi bahas tentang bunga ya..? padahal niatku tidak nulis tentang bunga,
wah.. kacauuu ni.. tpi ndak palah, teruskan aja.. lagian saya lupa tadi
sebenarnya ingin membahas apa.
Bagi
teman2 yang hobi/pernah naik gunung, tentu tidak asing dengan bunga yang
didominasi warna putih ini. Pertama kali saya melihatnya di puncak gunung Lawu
(3400an M diatas permukaan laut). Di gunung tertinggi nomor tiga sejawa inilah
pertama kali melihat sekaligus menyentuhnya. Sebetulnya waktu itu aku kecewa,
ternyata dari segi fisik, warna dan baunya sama sekali tidak cocok dengan
bayangganku, “ah.. tak ada yang menarik dari bunga ini” komentarku. Setelah
itu, setiap pendakian saya kurang memperdulikannya.
Tapi
berbeda dengan lima bulanan yang lalu, saat saya dengan beberapa teman baruku
berhasil menginjak Centeng songgo (pucak Merbabu), di tempat itu Andelwaes
tumbuh dengan baik, hamparan pohonnya sering aku dapati, berbeda di puncak lawu
13san tahun silam, seingatku bunga ini disana terbatas. Di puncak merbabu sewaktu
semua temanku berebut bunga abadi yang sudah mekar (dari fisiknya walaupun
sudah mekar sempurna, bagi ku bunga ini tatap tidak menarik), tiba2 aku jadi
berpikir dan membanding2kannya dengan bunga lain. Bila dibandingkan dengan
bunga mawar, melati, bahkan bunga kamboja sekalipun, fisik bunga abadi
menurutku masih jauh di bawahnya, jadi kesimpulanya klise saja, ‘fisik yang
menawan maupun bau yang harum’, belum tentu abadi. Mungkin hal ini yg mebuatku
diam2 kesem-sem sama bunga ini.
Satu2nya
kelebihan bunga Andelwaes ialah, ia mampu bertahan bertahun2 melekat di
tangkainya, wah.. kalo dari segi itu, Andelwaes benar2 bunga yang tidak ada
duanya, abadii…
Kala aku
tanya Beben (temanku yg mengajak aku naik gunung ini), tentang bunga abadi, dia
sok tau, “lha… mengapa kau masih meragukan keindahan bunga abadi, kau sadar
ndak sih..?”, “lha ya.. apanya yang indah?”, “lha… abadinya itu, yang bikin
banyak orang tergila-gila”, “oo.. begitu ya,,?”, “tidak hanya itu, bunga abadi
sangat2 tahan menderita”, “kok bisa?”, sautku, “pikirkan saja, Andelwaes
hidupnya diatas gunung, kau tahukan dimana keadaan diatas gunung, sepi-senyap,
dinginnya minta ampun, udaranya tidak bersahabat, dan di terpa berbagai macam
cuaca, tapi ia masih tetap saja tumbuh dipuncak gunung.. manusia tidak akan
sangup seperti itu… ha.. gimana lo.. pahamkan?”, aku Cuma mengerutkan dahi
sambil mengganguk saja, mendengar temanku itu bicara persis seorang guru
memberikan materi didepan murit2nya (maklum dia Mahasiswa pendidikan Man..)
Waktu
perjalanan menuruni gunung, saya belum puas membahas tentang Andelwaes dengan
beben, “Ben! tapikan dia tumbuhan,, ya biasalah ia bisa tahan hidup diatas
Gunung”, “ah.. masih belum terima juga kau ruapanya”, jawabnya dengan ‘ketus’,
dia melanjutkan, “justru itu, karna ia hanya tumbuhan, seharusnya manusia lebih
kuat dari dia”, “kuat dimana maksutmu”, “ya.. kuat menikmati segala kerunyaman
hidup,, ah gitu aja minta penjelasan..”. Busett.. cerdas juga ini anak, saya
jadi melonggo dan mangut2 saja.
Sepulang
dari gunung merbabu, tak mengubah pendirianku tentang bunga abadi. Dan setelah
5 bulanan tak mendaki, rasa kangen memporak-porandakan perasaan saya, rasanya
racun hidup telah beranak-pinak dalam tubuh, dan mendesak untuk dinetralkan
kembali. Kini selalu terbayang olehku, betapa syahdunya berjalan sempoyonggan
menuju puncak tertingi sambil bercumbu dengan kabut yang terhempas.
To beben…
bocah tengik kau ben.. kemarin naik selamet tidak ajak-ajak.. awas
kau…..!!!!!!!!!!!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar