“… walau
kukatakan dengan berteriak..
Ataupun
hanya kusimpan dalam hati…
Tetap
kupangil engkau cinta”. **
Seperti biasa, setelah khuwajiban itu
kujalankan, mata tetap saja mengajak untuk kembli ke atas tikar yang aku lupa
kapan terakir aku menucucinya. Ya.. untuk apa lagi kalau tidak terlelap
kembali, dalam hati selalu berujar, “tentang kawan, tenang, hari-hari akan
seperti kemarin tidak ada bedanya”. Orang2 akan terus berjalan, berdesakan
bagai tikus2 di jalan yg licin, berdesakan bertanya pada sebuah kebenaran yg
membosankan, pagaimana berkorban untuk mengubah nasib yg tidak berpihak?, ah
begitu menjengkelkan.