“… walau
kukatakan dengan berteriak..
Ataupun
hanya kusimpan dalam hati…
Tetap
kupangil engkau cinta”. **
Seperti biasa, setelah khuwajiban itu
kujalankan, mata tetap saja mengajak untuk kembli ke atas tikar yang aku lupa
kapan terakir aku menucucinya. Ya.. untuk apa lagi kalau tidak terlelap
kembali, dalam hati selalu berujar, “tentang kawan, tenang, hari-hari akan
seperti kemarin tidak ada bedanya”. Orang2 akan terus berjalan, berdesakan
bagai tikus2 di jalan yg licin, berdesakan bertanya pada sebuah kebenaran yg
membosankan, pagaimana berkorban untuk mengubah nasib yg tidak berpihak?, ah
begitu menjengkelkan.
“kita harus berani bermimpi, semua
berawal dari sana saudara”. Ha.. apa lagi kata2 itu, aku semakin muak saja
mendengarnya. “bermimpi, yg benar saja, aku ingin melamun sajalah”, tidak bosan2nya
juga meraka mengajariku untuk berani bermimpi, mimpi untuk sukses, mimpi untuk
memiliki ini dan itu. Ya.. orang2 selalu mengajariku tentang hal itu.
Pagi ini kalau tidak salah hari minggu,
aku tetap tak ingin menjadi seperti mereka yg gemar bermimpi, aku ingin
mengingat2 wajahmu saja, aku ingin membayangkan bagai mana engkau
berjalan/mengayunkan kaki, aku ingin melamun bagaimana kamu berbicara dan
bertutur kata. Ah.. andai saja aku berada disampingmu waktu itu, tentu kau akan
selalu mengajariku tentang banyak hal, tidak seperti orang2 itu.
Hari masih terlalu pagi untuk bergegas
meninggalkan kamar ini, lagi pula hari2 tidak akan berubah masih seperti yang
kemarin2, orang2 itu juga masih sama, masih dengan harapan yg sama, masih
dengan cita2 yang sama, masih dengan keinginan yg sama. Meraka juga masih bisa
membagi-bagi waktu, lha.. kapan akan terjadi perubahan wong mereka saja masih
bisa membagi-bagi waktu?..
Memikirkan hal ini, wah.. rasa
tertarikku padamu semakin bertambah-tambah. Pagi ini berhasil aku lukis wajahmu
di lamunanku, wajah yg sejatinya begitu sederhana, wajah yg sebetulnya mudah
untuk dilupakan.
Tdi malam telah khatam kubaca telisan
tentang dirimu, dan ku pandangi lekat2 foto hitam-putih wajahmu, aku jadi semakin rindu
padamu. Ya,, jujur, aku laki2 yg tidak seperti orang2 itu, yang suka
mengajarkan akan mimpi, namun aku akan tetap memikirkanmu, aku ingin tetap
melamun menjadi seperti dirimu, “Melarat dan Miskin selama hidup walaupun
menjadi seorang pemimpin”,..
Kata2mu itu yang kukira menambah
nyawaku menjadi tidak hanya satu, “pejuang seharusnya tidak dapat membagi
waktu, sunahnya pejuang harusnya menderita…”
Jadi intinya,, aku semakin cinta
padamu..
entah
kuutarakan dengan berteriak, ataupun hanya kusimpan dalam diam.. >.
**
kalimat itu bukan dariku saudara, kata2
itu dari seorang yg kemarin mewarnai seleraku, tpi sekarang tidak, aku jadi
agak tidak suka, tulisan2nya sekarang jadi beraliran merah jambu, dulu aku
selalu merefrensikan tulisan2nya kepada seluruh teman lama dan teman baru. Dan
sekarang ku ingatkan, tak usahlah kau baca tulisan2nya yg baru..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar