Senin, 09 September 2013

' Waktu Minggu Masih Pagi '


“… walau kukatakan dengan berteriak..
Ataupun hanya kusimpan dalam hati…
Tetap kupangil engkau cinta”. **

          Seperti biasa, setelah khuwajiban itu kujalankan, mata tetap saja mengajak untuk kembli ke atas tikar yang aku lupa kapan terakir aku menucucinya. Ya.. untuk apa lagi kalau tidak terlelap kembali, dalam hati selalu berujar, “tentang kawan, tenang, hari-hari akan seperti kemarin tidak ada bedanya”. Orang2 akan terus berjalan, berdesakan bagai tikus2 di jalan yg licin, berdesakan bertanya pada sebuah kebenaran yg membosankan, pagaimana berkorban untuk mengubah nasib yg tidak berpihak?, ah begitu menjengkelkan.


          “kita harus berani bermimpi, semua berawal dari sana saudara”. Ha.. apa lagi kata2 itu, aku semakin muak saja mendengarnya. “bermimpi, yg benar saja, aku ingin melamun sajalah”, tidak bosan2nya juga meraka mengajariku untuk berani bermimpi, mimpi untuk sukses, mimpi untuk memiliki ini dan itu. Ya.. orang2 selalu mengajariku tentang hal itu.

          Pagi ini kalau tidak salah hari minggu, aku tetap tak ingin menjadi seperti mereka yg gemar bermimpi, aku ingin mengingat2 wajahmu saja, aku ingin membayangkan bagai mana engkau berjalan/mengayunkan kaki, aku ingin melamun bagaimana kamu berbicara dan bertutur kata. Ah.. andai saja aku berada disampingmu waktu itu, tentu kau akan selalu mengajariku tentang banyak hal, tidak seperti orang2 itu.
         
          Hari masih terlalu pagi untuk bergegas meninggalkan kamar ini, lagi pula hari2 tidak akan berubah masih seperti yang kemarin2, orang2 itu juga masih sama, masih dengan harapan yg sama, masih dengan cita2 yang sama, masih dengan keinginan yg sama. Meraka juga masih bisa membagi-bagi waktu, lha.. kapan akan terjadi perubahan wong mereka saja masih bisa membagi-bagi waktu?..
         
          Memikirkan hal ini, wah.. rasa tertarikku padamu semakin bertambah-tambah. Pagi ini berhasil aku lukis wajahmu di lamunanku, wajah yg sejatinya begitu sederhana, wajah yg sebetulnya mudah untuk dilupakan.

          Tdi malam telah khatam kubaca telisan tentang dirimu, dan ku pandangi lekat2 foto hitam-putih wajahmu, aku jadi semakin rindu padamu. Ya,, jujur, aku laki2 yg tidak seperti orang2 itu, yang suka mengajarkan akan mimpi, namun aku akan tetap memikirkanmu, aku ingin tetap melamun menjadi seperti dirimu, “Melarat dan Miskin selama hidup walaupun menjadi seorang pemimpin”,..

          Kata2mu itu yang kukira menambah nyawaku menjadi tidak hanya satu, “pejuang seharusnya tidak dapat membagi waktu, sunahnya pejuang harusnya menderita…”

          Jadi intinya,, aku semakin cinta padamu..
entah kuutarakan dengan berteriak, ataupun hanya kusimpan dalam diam.. >.




**  kalimat itu bukan dariku saudara, kata2 itu dari seorang yg kemarin mewarnai seleraku, tpi sekarang tidak, aku jadi agak tidak suka, tulisan2nya sekarang jadi beraliran merah jambu, dulu aku selalu merefrensikan tulisan2nya kepada seluruh teman lama dan teman baru. Dan sekarang ku ingatkan, tak usahlah kau baca tulisan2nya yg baru.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar