Selasa, 29 Januari 2013

Tentang “Badut”


Buat juru kunci Menoreh (kulon Progo)
dan buat badu2 yg lain..
           Ini sebetulnya menindak lanjuti komentarnya-pen, tentang dua hal. Pertama, tentang sebuah kebahagiyaan yg belum jelas dalam tulisan di Blog ini sebelumnya. Kedua, tentang asal-muasal atau apa sesungguhnya makna dibalik kata “Bang badut” yg sampai kini, sebetulnya blm terurai sekaligus difahami pada kelayak, bahkan pd orang yg sekarang sudah mengaku (atau tepatnya mengangkat secara sepihak) sebagai badut sekalipun. (ini serius jangan angap bercanda),,
            Untuk masalah pertama, saya hanya bisa katakan, secara tidak langsung itu disengaja, takutnya ada yg tidak terima/salah penafsiran, sehinga dapat menjadi pemantik “perang dunia ke 3”, tidak bisa dibayangkan klo itu terjadi, jangan2 mengabdian kita selama bertahun2 akan jadi sia2. Seharusnya bagi para Badut, tentunya peka dan dapat mengartikan sendiri “kebahagiyaan” dalam tulisa tersebut, dengan maklumat2 sebelumnya yg telah ia terima. (tpi klo tetap tidak faham juga… saya kira harus dicopot dari kebadutannya.. eh.. klo ini sedikit bercanda..)

Selasa, 22 Januari 2013

"Akupun Bahagiya"


Alhamdulilah, ada yg bikin membuat hatiku nyaman malam ini, padahal sedari pagi sampai sore tadi, ada sesuatu yg bikin ‘nek’ di hati. Yg membuat keadaanku klimpungan bahkan hampir “sekarat”, sebetulnya, ini penyakit lama… dan kronisnya aku tak thu apa gerangan penyebabnya.. dulu ada gagasan dari teman lama untuk memanfaatkan jasa “orang pintar”, mungkin maksut teman lama itu macam Ki Joko Bodo ato macam Romi Rafael, ataupun macam Haribil, juru kunci pohon Randualas, sebuah pohon raksasa yg dikalim oleh sesepoh desa sebagai benteng keslamatan kampungku dan sekitarnya, (penduduk kampong, sebagian saat ini masih mengganggap pohon itu mmiliki kekuatan magis yg layak dikasih bunga2an setip kamis sore) sekarang pohon itu masih berdiri tegar tidak berubah, masih seperti dulu waktu aku sering meludahinya ataupun membuang air kencing disana, bersama temen2 sepermainan. 
“// (Alkisah: kala itu ada semacam “sendikat” yg angotanya terdiri dari orang2 unik, dan ada segrombolan anak ingusan yang saya ada didalamnya. Segrombolan cecunguk ini, ingin bergabung dengan “sendikat” unik itu. Pimpinan “sendikat” tersebut bersedia menerima kami dengan satu syarat, berani mengencingi pohon Randualas. Maka, saya satu2nya diantara anak2 ingusan itu yg menyanggupi syarat mereka. Tanpa gentar, aku