Alhamdulilah, ada yg bikin membuat hatiku
nyaman malam ini, padahal sedari pagi sampai sore tadi, ada sesuatu yg bikin ‘nek’ di hati. Yg membuat keadaanku klimpungan bahkan hampir “sekarat”,
sebetulnya, ini penyakit lama… dan kronisnya aku tak thu apa gerangan
penyebabnya.. dulu ada gagasan dari teman lama untuk memanfaatkan jasa “orang
pintar”, mungkin maksut teman lama itu macam Ki Joko Bodo ato macam Romi
Rafael, ataupun macam Haribil, juru kunci pohon Randualas, sebuah pohon raksasa yg dikalim oleh sesepoh desa
sebagai benteng keslamatan kampungku dan sekitarnya, (penduduk kampong,
sebagian saat ini masih mengganggap pohon itu mmiliki kekuatan magis yg layak
dikasih bunga2an setip kamis sore) sekarang pohon itu masih berdiri tegar tidak
berubah, masih seperti dulu waktu aku sering meludahinya ataupun membuang air
kencing disana, bersama temen2 sepermainan.
“//
(Alkisah: kala itu ada semacam “sendikat” yg angotanya terdiri dari orang2 unik,
dan ada segrombolan anak ingusan yang saya ada didalamnya. Segrombolan cecunguk
ini, ingin bergabung dengan “sendikat” unik itu. Pimpinan “sendikat” tersebut bersedia
menerima kami dengan satu syarat, berani mengencingi pohon Randualas. Maka, saya satu2nya diantara anak2 ingusan itu yg menyanggupi
syarat mereka. Tanpa gentar, aku
menjalankan syarat itu dengan begitu sempurna, selanjutnya saya dilantik menjadi anggota baru, dengan ditandai rambutku diusap atau tepatnya dikramas denagn bunga2 yang ada di bawah pohon Randualas oleh seluruh seniorku satu-persatu… selepas itu, akupun Bahagiya sekali, karna tidak sembarangan “sendikat” ini menerima angota baru, rasanya aku menjadi anak yg paling beruntung kala itu (lebih bahagiya dibanding dengan saat dinyatakan lulus ujian skripsi dua bulan lalu). Lantas, dengan gagah akupun berjalan tegap bak seorang tentara yg sedang latihan baris-berbaris, diantara anak2 ingusan yg tidak berani menyangupi syarat itu, sekaligus menjadi saksi proses pelantikanku… hari2 sesudah kejadian itu, seinggatku tidak jarang aku melakukan hal itu bersama angota lain, bahkan menjadi salah satu ritual anggota “sendikat” untuk menjaga eksistensi “kewibawaan” dimata anak2 lain… tidak sekedar pencitraan saja..-) //”
menjalankan syarat itu dengan begitu sempurna, selanjutnya saya dilantik menjadi anggota baru, dengan ditandai rambutku diusap atau tepatnya dikramas denagn bunga2 yang ada di bawah pohon Randualas oleh seluruh seniorku satu-persatu… selepas itu, akupun Bahagiya sekali, karna tidak sembarangan “sendikat” ini menerima angota baru, rasanya aku menjadi anak yg paling beruntung kala itu (lebih bahagiya dibanding dengan saat dinyatakan lulus ujian skripsi dua bulan lalu). Lantas, dengan gagah akupun berjalan tegap bak seorang tentara yg sedang latihan baris-berbaris, diantara anak2 ingusan yg tidak berani menyangupi syarat itu, sekaligus menjadi saksi proses pelantikanku… hari2 sesudah kejadian itu, seinggatku tidak jarang aku melakukan hal itu bersama angota lain, bahkan menjadi salah satu ritual anggota “sendikat” untuk menjaga eksistensi “kewibawaan” dimata anak2 lain… tidak sekedar pencitraan saja..-) //”
-tentang
aktifitas “sendikat” ini, kita bicarakan dilain kesempatan saja. Atau lupakan
saja “sendikat” unik itu, karena mungkin tidak begitu penting untuk kalian…
Kenyamanan itu hadir bersamaan dengan
datangnya seorang teman, yg mnghampiri saya di tempat dimana aku akhir2 ini
menghabiskan sbagian waktuku sambil mengumpulkan uang recean-pen, untuk sekedar
melanjutkan hidup. Akhirnya kami magriban bersama disebuah masjid yg jamaahnya
didominasi oleh pemuda-pemudi umur 20an. Ganteng2 dan cakep2 lagi, padahal
jarang menemukan masjid yg jamaahnya mayoritas anak2 muda di kota ini, (kita
tingalkan saja pemuda-pemudi itu, karna yang kita bicarakan bukan mereka…).
Selepas magrib, secara ndak sadar aku mengiyakan ajakan temenku untuk singgah
kekontarkannya yg memang tidak jauh dari masjid tersebut.
Sesampai
didepan rumah, seorang perempuan berkerudung begitu elegan menyambut kami di
balik pintu. Di dalam rumah ukuran 5x5m itu hatiku semakin nyaman saja, lebih2 sayub2
mendengar oberolan mereka berdua di samping rumah (tentunya sambil menyiapkan
jamuan untuk sitamu macam diriku), secangkir kopi telah mampir dihadapan saya,
kunikmati air hitam manis itu, sambil memperhatikan lukisan yg berjajar rapi
bersandar didinding yg semuanya ada tanda tanggan di pojok kiri bawah, dan ada
tulisan mungil disana, “Arifa”. Lagi2 kudengar oberolan2 yg semakin
menentramkan, pembicaraan yg biasa, tanpa dibuat2/diada-adakan, pembicaraan apa
adanya, tanpa ‘tendensi’ apapaun, sebuah oberolan yg mengisaratkan
kesederhanaan tingkat lanjut. tapi terdengar
begitu manis dan teramat romantis.
![]() |
| Ini lah n adik |
Laki2
mantan aktifis pecinta alam ini, sudah Ijab Qobul tiga bulanan lalu. Seorang Perempuan
yg berjiwa besar telah menjadi jodohnya, bagai mana tidak, Ia rela dipinang
oleh seorang pemuda yg belum mapan alias berpendapatan serabutan (bayangkan
saja kawan2, seorang prempuan dari kluarga menengah atas, begitu iklas dipinang
oleh laki2 penjaga warnet sminggu 4 sif, ku kira memang mulaikat bercampur tanggan
tentang rejeki mereka). dan tentunya bukan gara2 ‘kisah’ Mulaikat itu, yg
menjadikan perempuan ini berlapang dada menerima pemuda bekas perokok ini. Sini2…!,
kuberi tahu rahasiaya, tpi jangn bilang siapa2 ya… bener lho jangan dibilang
kesiapapun, ini sebuah rahasia besar yg teramat jarang kudengar wahai kawan2,....
‘Ia sudah mafhum, suaminya tidak akan menelantarkkanya dan akn berjuang sekuat tenaga
untuk menafkahinya lahir-batin, masalah sedikit atau banyak nafkah itu, tidak
jadi masalah baginya. Yg terpenting baginya, suaminya sudah berusaha dan akan
selalu diterima dengan suka-cita apapun yg terjadi. Ia pun faham, dengan sperti
itu, dirinya serta suaminya akan mendapatkan sebuah pahala dan rahmat yg
teramat besar’.
Oya…! satu lagi rahasia yg wajib kalian tahu kawan2.. sebelum
menerima lamran temenku ini, Dia cuma meminta satu syarat (hampeer sepadan dg
syarat yg diminta oleh Pimpinan “sendikat”ku itu, cuma satu syarat, tpi saya
pikir ini lebih ringan..) ‘menjadi laki2 biasa2 saja/segera merubah
penampilannya….’ Ah..! sebagai laki2 biasa, iri juga diriku bila membicarakan mereka…
tapi dibalik ke-irian tersebut, ada sesuatu hal yg semakin membuat nyaman
hatiku, berada di samping sahabat yg beruntung.
Waktu
aku mengenal dia, rambutnya gimbal sepunggung, pakeannya/penampilannya mirip
gerakan anti kemapanan. Dan sekarang, rambutnya terpotong rapi seperti
potongannya Robin van Persie, tahukan Ven Persie saudara2..?, “si tampan
straiker Mencester Unaited”, ataupun juga, patut disejajarkan dengan
potongannya CR7 (Crestiano Rolando, bintang Real Madrid dan pria terseksi
seportugal), diapun sudah terbiasa dengan baju gamis, (haaa ha…ha.. sementara
diriku, yg mengajak berubah brsama2, masih saja tidak kerasan dengan baju
berkerah, apa lagi baju koko..waah.. ampuuun….!!), perkiraan saya, tentu saja
perubahan itu karna Isteri tercinta.
![]() |
| Robin Ver Persie |
Setelah makan nasi yg ditemeni dengan
sambal dan gorengan terong unggu, namun begitu lezatnya, akupun mohon diri..
sebelum keluar dari rumah sederhana itu, aku dapat pesan khusus dari sang
Isteri, “…Makasih mz Mon, telah mnyempatkan bersilaturohmi, jangan kapok2 lah,
dan mohon tetap dibntu suami saya agar tetap baik2 saja...”. aku tahu apa yg
dimksud sang Isteri, tpi aku tak sangup berkata apapun, hanya tersenyum ragu,
karna dlm hatiku berkata, “waah.. pantasnya sekarang saya mbk yg seharusnya serius
berguru dengan dia.. agar tatap baik2 saja…”.
Akupun pulang dengan kenyaman hati,
hati yg ‘nek’ sesiang tadi telah luntur oleh kjadian tadi. Bahkan lebih dari
itu, ketakutan2 akan hidup tempo hari, terasa tak kerasan dan ingin segera
pergi, sungguh kurasakan itu. Rasanya mirip kebahagiyaan saat aku dilantik
menjadi anggota “sendikat” unik waktu itu.
Ya..
barang kali allah Swt, membuat hati bahagia dengan cara yg berbeda2. Satibanya
di kontrakan, aku tidak bgitu peduli dengan teman2 kntrakaknku, yg bergrombol
di ruang utama, telinggaku sepertinya tak tertarik dengan pembicaraan mereka.
Segera masuk kamar, kuhidupkan leptopku, langsung kuputar lagu “Kembang Pete”
dan “Libur kecil kaum kusam” karya Bang Iwan Fals…
Ah.. rasanya aku
akan tidur nyenyak malam ini..-
Kasatrian
“Madu Retno”, 11-01-’13


Tidak ada komentar:
Posting Komentar