….
akan ku tunggu mbak, jangankan cuma sebentar, sampai pagipun akan ku tunggu ….
Beberapa
hari kemarin aku merasa rindu, sebuah hal yang sulit di terima oleh nalar, apa
lagi oleh kata2. Dulu, mula-mula begitu menggangu, bahkan amat menjengkelkan,
aku hampir putus asa dengan si Dia. Keputusan telah ku ambil, ya.. talak
tiga,.. sunguh. Tapi entah mengapa dulu keputusan itu ku urungkan, bisa jadi
aku merasa kasihan, kalau dia jauh dariku, lantas siapa juga yang mau merawatnya?.
Bagai mana aku tdk
jengkel, demi merawatnya aku banyak kehilangan lembar rupiyah, bahkan uang
makanku juga sering lenyab gara2 si dia. Tidak berhenti disitu, sering waktu
mengantarku kesebuah agenda penting, yang diacara itu mentaruhkan masadepanku,
di tengah jalan si dia berhenti mendadak tanpa alasan yang jelas, dan tak mau
jalan lagi, padahal beberapa hari sebelumnya si dia menguras kantongku (yg
memang tidak banyak isinya) di sebuah jasa sepesialis yang menjadi lenggananku
(mungkin si-sepesialis juga bosan dengan si dia, itu jelas saya tangkap dari
raut mukanya disetiap aku datang). Gara2 kejadian ini, gambaran tentang
masadepanku sementara terbang bak bidadari meningalkan tempat pemandian di bumi.
Itu dulu, sekitar satu/dua tahunan pertama si dia resmi
menjadi hakku, setelah itu, kejadian2 serupa benar2 bisa aku nikmati. Yg paling
membahagiyakanku, waktu menggingat menuntunnya bersama teman lama dari kawasan
Balioboro sampai kontrakan disekitar jalan timoho, di malam yg sudah tua,
grimis lagi. Ada sebuah ide2, gagasan2 dan tentunya lamunan2 bermutu
bermunculan disetiap menuntun si dia di jalan (entah
karena apa aku juga tidak faham). Selain itu aku jadi merasa banyak sahabat,
suduh berkali-kali (kalo tidak bisa dikatakan sering), waktu kejadian seperti
itu, banyak yg menawarkan pertolongon, walau kadang hanya bertanya, “kena apa
mas?”, “ada yg bisa di bantu?” atau semisalnya. Namun juga ada yang benar2
menolong di antar ketempat sepesialis, diantara mereka kebanyakan laki2 dan
sudah beranjak dewasa (tua), amat jarang yg masih muda/remaja. Terlepas dari
itu, orang2 yg berseliweran di jalan yg paling banyak adalah tidak peduli,
mungkin hati mereka bergumam “persetan dengan kau”.
Gara-gara si-dia pula, aku amat sensitip kalau melihat
orang dijalan yg sedang kena musibah serupa, kalau sedang tidak ada hal yg
penting/tergesa2 sering aku menawarkan pertolongon, bak superhero di filem2 yg
memberantas kedaliman demi keadilan rakyat jelata. Walau kadang2 ada yg curiga
“wah..! ndak usah mas, bisa sendiri tak usah repot2”, kutangkap di sela2 nada bicaranya
sebuah ungkapan “sok2an lhuu..!”, (ini terjadi ketika yg mau saya tolong
seorang mbak2 yg masih muda), dan tidak hanya ungkapan itu yg saya tangkap,
sekilas ada ungkapan lain yg muncul setelah kata terebut “dasar laki2..”, “ih..
ingin cari peluang dalam kesempitan” atau mungkin kata2 “emm.. ingin cari
keberuntungan, belum tau dia.. tak usah lah yauw..”.
Dan beberapa hari yang lalu, aku benar2 merasa rindu
(rindu yg sesunguhnya), kurang lebih setahun belakangan, si dia tidak pernah
berhenti mendadak dijalan, kalaupun berhenti selalu dapat kuatasi sendiri
dengan mudah. Aku rindu kejadian2 yg lalu bila bersama dengan si dia, ya…
menuntunya di jalan karena si dia tidak mau jalan, entah kenapa, aku tidak tahu
dengan pasti mengapa aku merasa rindu tentang hal ini. Tapi aku benar2 rindu,
sunguh. Mungkin saja aku baru bosan dengan rutinitas yg kadang menjengkelkan,
bosan dengan pekerjaan, bosan dengan jadwal2, bosan dengan masa depan atau mungkin
juga bosan dengan semua hal yg berbau-bau harapan. Mungkin jadi, karena kebosan
ini saya jadi menginginkan sesuatu yang beda.
Di sisi
lain, melihat karakter si dia, buatku ini semua menjadi semacam pemantik rasa
syukur yg terselubung. Aku jadi bisa memahami kalimat2, mana mungkin orang yg selalu kenyang akan menjadi seorang “pembangkang”,
atau mana bisa orang yg selalu nyaman dapat
memahami secara hakiki permasalahan lingkungannya. Ya.. mungkin ini juga yg
membuat aku teramat rindu….
Dan
saudara2 perlu tahu, kemarin malam, rindu dalam dada itu telah mendapatkan
penawarnya. Tepatnya sehabis isak di pinggiran kota Yogyakarta, selepas
berkunjung di kontrakan teman baru, tiba2 si dia berhenti mendadak, kucoba
berkali-kali untuk mengajaknya berjalan, si dia tetap saja takmau, ku cuba lagi
tetap tak mau, sekali lagi kucuba, hasilnya sama saja, segera aku pandangi si
dia secara detail, dan kucoba lagi, si dia tetap saja tak beduli, kucoba lagi
tetap tak beduli… aku teliti lagi, semua normal, ku berusaha coba lagi,
hasilnya nihil, “kok bisa, kau ini..” lirihku. Aku cek yg lain. Ah... Ternyata,
dua hari ini aku lupa tidak mampir ke SPBU (benar2 lupa, beneran..). Akupun
tersenyum girang, ku raba dan ku usap dia berkali-kali dengan lembut, ku cium
dia dua kali dengan mesra, akupun menuntunya.. sumeringah..
Tidak hanya
itu saudara2, setelah kurang lebih setengah kilo meter tidak ada yg menjajakan
barang yg saya cari, ditengah-tengah lamunanku yg sedang berkelana sambil
menuntun si dia, saya dikagetkan oleh orang yg berhenti dengan halus hampir
tepat didepan saya, dan saya tambah kaget lagi, dia seorang wanita muda. Dengan
tidak beranjak dari tempatnya, secara amat sopan dia berbicara “kena apa mas?”,
dengan gugup aku menjawap pertanyaan itu “oo ini mbk, cuma kehabisan bensin”,
“wah.. mas, di sekitar sini tidak ada yg jualan bensin, biasanya di warung itu
ada, tapi jam gini udah tutup”, belum lagi aku menemukan kata2 yg pas, dengan
tidak mengurangi kesopanannya di melanjutkan “gini aja mas, saya belikan, di
tetangga saya insaallah ada, tempat tinggal saya sekitar sini, jenengan tunggu
disini saja, jangan kemana2 pokoknya masnya tunggu sini sebentar”, “oo.o.. mbk
ta.a.pi”, “santai aja mas, ndak pa2, pokoknya masnya tunggu sini, saya belikan
sebentar”, “oo..o iya mbk, ni unganya”, belum sempat aku mengeluarkan barang yg
ku maksut, mbk didepanku berucap lagi “pakai uangku dulu aja maz ndak pa2”.
Setelah mengatakan itu, dengan cekatan Ia berbelok mengambil arah berlawanan
sambil sedikit mengeraskan suara, “tunggu lho maz!, bentar”, aku bengong
beberapa saat, di detik itu dalam kepalaku tertulis sebaris kata-kata, akan ku tunggu mbk, jangankan Cuma sebentar,
sampai pagi pun akan kutunggu. Lantas ku lirik si dia, dapat terlihat olehku,
si dia tersenyum cemburu.
Aku
menunggu dengan cemas, si dia diam dengan tenang, lima menit berlalu, satu-dua
kendaraan berseliweran tanpa memperhatikan diriku. Kutatap langit, tak satupun
bintang kelihatan. Kecemasan bertambah setelah sepuluh menit berlalu. Lima belas
menit terlewat tidak ada tanda2 kedatangan orang yang saya tunggu. Penantian kali
ini tidak begitu membosankan tapi antara cemas dan berharap. Kulihat ponselku,
disana tersusun angka 20.48, tapi saat itu memang bukan angka tersebut yg
tepat, bilangan angka itu sengaja ku lebihkan 15 menit.
Sekitar 20
menit berlalu. Nah.. datanglah yang kutunggu, kecemasan beranjak menghilang dalam
diriku, perasaan lega berkeluyuran
dalam dada. “Eh.. maaf mas, lama ya?”, “ooo.. ndak mbk”, “di tempat tetanggaku
ternyata habis, saya beli di tempat lain”, “wah.. mbak merepotkan ni”,
“he..he.. wah ndak mas, nyantai aja seperti di pantai”, Ku fahami kata2 itu
sebagai tanda keakrapan. Setelah menempatkan motornya pada posisi yg aman, ia
beranjak menghampiri diriku sambil membawa sebuah botol, segera ku buka tutup
tempat bahan bakar, kuminta botol itu, tpi ia tak berduli, ditumpahkannya dengan
sopan air agak kekuningan itu ketempatnya, ah.. pertolongan yg sempurna,
bisikku.
Sesaat tak
ada percakapan. Di balik keremangan lampu penduduk, dengan mencuri-curi pandang
kuperhatikan dia, kurasa tak kalah dengan bidadari yg selendangnya dicuri
pemuda nakal Joko tarub. Wajahnya sedikit oval, kulitnya agak cerah kekuningan,
rambutnya lurus, dikucir rapi jadi satu di belakang mirip ekor kuda, tingginya
sejajar denganku, selebihnya tak mungkin kesebutkan di sini. Ada perasaan dosa
mengeliat saat mataku memperhatikan dirinya, cepat2 kuakhiri perhatian mataku.
Setelah air kekuningan itu sudah sepenuhnya berbindah tempat, dengan santun ia
berkata “udah mas”, “oh.. ya mbk, jadi berapa?”, “seperti biasa mas tuju ribu”,
saya ulurkan uang pas, ia terima dengan sangat berlahan, kecemasan muncul lagi,
tapi kali ini kecemasan berbeda, semacam perasaan akan dimulainya sebuah
perpisahan.….
Dengan
tetap santun, sekali lagi ia berkata “udah mas”. Sempat aku berfikir, apakah
ini akan segera berakhir hannya begitu saja, apakah aku hanya sekedar ucapkan
terimakasih?. Ah.. harus lebih dari ini.
Dengan
hati2 dia menuju motornya, aku gugup, sepontan aku lantunkan sehalus mungkin
tiga kata “trimakasih sekali mbk”, dengan senyuman yg membuat aku terpaku, dia
menjawap singkat, “sama2 mas”. Ah.. begitu bodohnya diriku, apakah hanya tiga
kata itu kata terakhirku. Tidak!. Harus ada kata2 lain, paling minimal dua
pertanyaan, tapi apakah aku berani untuk dua pertanyaan itu?, aku ragu, sunguh!.
Dengan segera, aku berusaha kumpulkan segenap kekuatan. Bersamaan denagn suara
starter motornya, mbk penolongku itu sempat menatap sekaligus memberikan
senyuman padaku, di detik itulah kukeluarkan segenap kekuatan untuk pertanyaan
pertama, “eh.. mbk ngapunten, kalau boleh tahu, namanya siapa ya..?”…
..selesai..
:: gambare ora nyambung.. Yoo been..!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar