Kamis, 05 Maret 2015

BILA SANG GURU PERGI


buat Guru Kami: Agus NurYatno

                  
                      … “bagaimana..!? Sudah siap menerima sesuatu yg besar”…



“Kok botaknya semakin ke belakang pak!”, yang dikatain botak tersenyum manis, “inilah salah satu tanda keseriusan” ucapnya sambil mengelus pundak lawan bicaranya, Yang ngatain botak cengar-cengir  salah tingkah, “ngapunten pak Cuma bercanda”. “heemm.. aku suka mahasiswa sepertimu, dirimu jujur sekali. Oya... apa kamu serius dengan cita-citamu yg kamu sbutkan kmarin ?”, “tentu pak!, itu cita-citaku sebelum aku hadir ke Dunia”, “cakep…, perjuangkn dngn kedikdayaanmu anak muda, aku yakin kamu akan dapat merengkuhnya”.

Itulah sepengal kisah bersama Guru kami pak Agus Nuryatno, dengan sahabat kami asal Rembang sebelum perkuliahan dimulai. Teman kami tsb Qabib namanya, dia memang kadang celelekan, tpi mempunyai keinginan yg tidk sembarangan, ingin jadi kepala Desa, pak aguslah yg mendukung pertama kali.


****

Sekitar 5 thun berselang, teman kami ini datang ke Yogya dan menemuiku, bercerita tentang kekalahannya ‘bertarung’ menjadi kepala Desa hanya berselisih 9 suara (seingat saya, atau mungkin kurang dari itu). Aku mendengarkan dgn wajah ‘berduka cita’, hari itu aku hanya bisa memberi masukan klise “jangan menyerah Bung..! putaran berikutnya kesempatan masih lebar terbuka”. Pdahal klo dia jadi kepala Desa waktu itu, Dia akan memecahkan rekor MURI, kepala Desa termuda se-Jawa, atau bahkan se-Indonesia, bayangkan hanya karena 9 suara kawan... Seandainya itu terjadi, niatnya akan segera ke-yogya dan mempersembahkannya kpada guru kami tercinta, Pak Agus Nuryatno. Walaupun blum berhasil, sebetulnya niat kami waktu itu ingin tetap sowan ke Pak Agus, tpi entah karena apa niat itu tidak terlaksana.

                          Pak Agus dengan beberapa mahasiswanya

Sosok Guru kami ini, sedang tidak terlalu tinggi, agak besar, berkulit kuning, berkacamata dan memang agak botak, cara berjalannya nyantai. Suaranya cenderung ngebas, Setiap kali mengawali kuliah beliau sering berucap, “bagaimana..! Sudah siap menerima sesuatu yg besar?”. Dalam kelas, beliau tidak sekedar mengajar, dimata kami para mahasiswanya, pembawaan cara mengajarnya, mirip sebuah “perlawanan”, perlawanan terhadap kebiasaan buruk yg sering dilakukan oleh rata2 mahasiswa, atau “perlawanan” terhadap sistim/kebijakan pendidikan/pemerintahan yg sering memperburuk keadaan. Emosional kami kerap terbawa oleh seruan2 beliau. Kamipun pernah aksi bersama satu jurusan turun kejalan. Beliau juga banyak mengajarkan kepada kami bagaimana menjadi seorang Anak muda yg sunguh2 anak muda, bukan anak muda jadi-jadian. Selain itu agenda2/cita2 kami kedepan menjadi tergambar karena didikan beliau. Saya salah satu mahasiswa yg jarang mencatat, termasuk mata kuliah beliau, tapi sebagaian besar yg disampaikannya teringat olehku, itu bukan semata2 kecerdasanku, namun karena keahlian pak Agus dalam menyampaikan meteri kepara mahasiswanya.

Kisah diatas cuma sekelumit saja, tidak cukuplah kirnaya bila diceritakan seluruhnya, dari awal hinga akir tentang kebersamaan kami dengan beliau. Saat ini Sangat sulit mencari Guru seperti beliau, kebanyakan sekarang apa adanya, sering dosen sekarang hanya disibukkan penelitian/mencari syarat untuk mencapai ‘prestasi’ tertentu yg cenderung bersifat pribadi dan kurang memperdulikan bagai mana mengajar yg baik. Misalnya, pernah kami sekelas 2 jam mendengarkan dosen marah2 hanya karena kami salah memilih kertas untuk tulis jawaban tugas.

                                      Murid-murid pak Agus

Ya,, cerita itu akan menjadi pengalaman/ilmu kami, termasuk cerita2 kami diluar akademis/perkuliahan bersama pak Agus, termasuk cerita2 per individu diantara kami bersama beliau, kami akan terus membawa kebaikannya sampai ketentuan ajal berlaku kpada kami. Tentunya juga kisah2 kami yg ter”inspirasi” dari pak Agus. Tentang apa lagi kalau bukan tentang Anak muda, tentang diantara kami yang sekarang berjodoh walau satu jurusan/satu kelas, termasuk kisah penulis dengan seseorang sekelas yg hafal 15 juz… yg berakhir begitu cepat dan tidak terduga….)-  ,semoga dia selalu berada dalam bimbingannya.., (wakka..ka.. hhee.hee)….
ini semua akan selalu menjadi pernak-pernik sejarah hidup kami yang insaallah membahagiyakan.

Mendengar Berita kepergian pak agus untuk selalam2nya di negeri sakura (sebagai dosen tamu) mengagetkan kami, kami belum sempat membawa keberhasilan kami kepada beliau. Ajal memang tak dapat dilawan, manusia dipaksa untuk menerimanya dengan dada terbuka, termasuk kami murit2nya yang harus merelakan kebergiannya. semoga amal beliau diterima disisinya, anak isri beliau diberi keiklasan yg lebih, dan semoga kami diberi kemampuan untuk selalu membawa kebaikan2 beliau yg telah diberikan kapada kami. Inilah tugas terbesar sebagai seorang murit  yg harus dijalankan, dan semoga kebaikan2 tsb menjadi salah satu hal yg selalu ditulis malaikat didalam buku hariannya….. (Mo2n) 25/02/’15

2 komentar:

  1. Saya juga turut kehilangan..beliau adalah paman saya...

    BalasHapus
  2. Saya juga turut kehilangan..beliau adalah paman saya...

    BalasHapus