buat Guru Kami: Agus NurYatno
… “bagaimana..!? Sudah siap menerima sesuatu yg besar”…
“Kok botaknya semakin ke belakang pak!”,
yang dikatain botak tersenyum manis, “inilah salah satu tanda keseriusan”
ucapnya sambil mengelus pundak lawan bicaranya, Yang ngatain botak cengar-cengir salah tingkah, “ngapunten pak Cuma bercanda”.
“heemm.. aku suka mahasiswa sepertimu, dirimu jujur sekali. Oya... apa kamu
serius dengan cita-citamu yg kamu sbutkan kmarin ?”, “tentu pak!, itu cita-citaku
sebelum aku hadir ke Dunia”, “cakep…, perjuangkn dngn kedikdayaanmu anak muda,
aku yakin kamu akan dapat merengkuhnya”.
Itulah sepengal kisah bersama Guru kami pak
Agus Nuryatno, dengan sahabat kami asal Rembang sebelum perkuliahan dimulai. Teman
kami tsb Qabib namanya, dia memang kadang celelekan,
tpi mempunyai keinginan yg tidk sembarangan, ingin jadi kepala Desa, pak
aguslah yg mendukung pertama kali.
****
Sekitar 5 thun berselang, teman kami ini
datang ke Yogya dan menemuiku, bercerita tentang kekalahannya ‘bertarung’ menjadi
kepala Desa hanya berselisih 9 suara (seingat saya, atau mungkin kurang dari
itu). Aku mendengarkan dgn wajah ‘berduka cita’, hari itu aku hanya bisa
memberi masukan klise “jangan
menyerah Bung..! putaran berikutnya kesempatan masih lebar terbuka”. Pdahal klo
dia jadi kepala Desa waktu itu, Dia akan memecahkan rekor MURI, kepala Desa
termuda se-Jawa, atau bahkan se-Indonesia, bayangkan hanya karena 9 suara
kawan... Seandainya itu terjadi, niatnya akan segera ke-yogya dan mempersembahkannya
kpada guru kami tercinta, Pak Agus Nuryatno. Walaupun blum berhasil, sebetulnya
niat kami waktu itu ingin tetap sowan ke Pak Agus, tpi entah karena apa niat
itu tidak terlaksana.
Sosok Guru kami ini, sedang tidak terlalu
tinggi, agak besar, berkulit kuning, berkacamata dan memang agak botak, cara
berjalannya nyantai. Suaranya cenderung ngebas,
Setiap kali mengawali kuliah beliau sering berucap, “bagaimana..! Sudah siap
menerima sesuatu yg besar?”. Dalam kelas, beliau tidak sekedar mengajar, dimata
kami para mahasiswanya, pembawaan cara mengajarnya, mirip sebuah “perlawanan”,
perlawanan terhadap kebiasaan buruk yg sering dilakukan oleh rata2 mahasiswa,
atau “perlawanan” terhadap sistim/kebijakan pendidikan/pemerintahan yg sering
memperburuk keadaan. Emosional kami kerap terbawa oleh seruan2 beliau. Kamipun
pernah aksi bersama satu jurusan turun kejalan. Beliau juga banyak mengajarkan
kepada kami bagaimana menjadi seorang Anak muda yg sunguh2 anak muda, bukan
anak muda jadi-jadian. Selain itu agenda2/cita2 kami kedepan menjadi tergambar
karena didikan beliau. Saya salah satu mahasiswa yg jarang mencatat, termasuk
mata kuliah beliau, tapi sebagaian besar yg disampaikannya teringat olehku, itu
bukan semata2 kecerdasanku, namun karena keahlian pak Agus dalam menyampaikan
meteri kepara mahasiswanya.
Kisah diatas cuma sekelumit saja, tidak
cukuplah kirnaya bila diceritakan seluruhnya, dari awal hinga akir tentang
kebersamaan kami dengan beliau. Saat ini Sangat sulit mencari Guru seperti
beliau, kebanyakan sekarang apa adanya, sering dosen sekarang hanya disibukkan
penelitian/mencari syarat untuk mencapai ‘prestasi’ tertentu yg cenderung
bersifat pribadi dan kurang memperdulikan bagai mana mengajar yg baik.
Misalnya, pernah kami sekelas 2 jam mendengarkan dosen marah2 hanya karena kami
salah memilih kertas untuk tulis jawaban tugas.
Murid-murid pak Agus
Ya,, cerita itu akan menjadi
pengalaman/ilmu kami, termasuk cerita2 kami diluar akademis/perkuliahan bersama
pak Agus, termasuk cerita2 per individu diantara kami bersama beliau, kami akan
terus membawa kebaikannya sampai ketentuan ajal berlaku kpada kami. Tentunya
juga kisah2 kami yg ter”inspirasi” dari pak Agus. Tentang apa lagi kalau bukan
tentang Anak muda, tentang diantara kami yang sekarang berjodoh walau satu
jurusan/satu kelas, termasuk kisah penulis dengan seseorang sekelas yg hafal 15
juz… yg berakhir begitu cepat dan tidak terduga….)- ,semoga dia selalu berada dalam
bimbingannya.., (wakka..ka.. hhee.hee)….
ini semua akan selalu menjadi pernak-pernik
sejarah hidup kami yang insaallah membahagiyakan.
Mendengar Berita kepergian pak agus untuk
selalam2nya di negeri sakura (sebagai dosen tamu) mengagetkan kami, kami belum
sempat membawa keberhasilan kami kepada beliau. Ajal memang tak dapat dilawan, manusia
dipaksa untuk menerimanya dengan dada terbuka, termasuk kami murit2nya yang
harus merelakan kebergiannya. semoga amal beliau diterima disisinya, anak isri
beliau diberi keiklasan yg lebih, dan semoga kami diberi kemampuan untuk selalu
membawa kebaikan2 beliau yg telah diberikan kapada kami. Inilah tugas terbesar
sebagai seorang murit yg harus
dijalankan, dan semoga kebaikan2 tsb menjadi salah satu hal yg selalu ditulis
malaikat didalam buku hariannya….. (Mo2n) 25/02/’15



Saya juga turut kehilangan..beliau adalah paman saya...
BalasHapusSaya juga turut kehilangan..beliau adalah paman saya...
BalasHapus