Senin, 06 Agustus 2012

“Senyum manis para bujangan”


        
        Sebetulnya, entah mengapa saya kurang begitu nyaman menulis tema seperti ini,(kalau tidak bisa dibilang “anti”, masalahnya temen2 sering juga mancing2 berbicara mengenai hal yg satu ini, sehingga aku terjebak juga ikut2tan membahasnya..). tapi yang jelas tulisan ini tidak membela siapapun.. sumpah… termasuk kaum bujangan.. (makanya.. jangan senang dulu wahai para Bujangan. Tapi teneng-tenang.. saya juga masih bujangan lho mas.. )

KEMBALI


apa kabar duka? 
aku teramat rindu padamu
bagaimana keadaanmu hari ini?

maafkan aku,
dua tahun lalu aku diam-diam pergi
aku pun lupa menutup pintu saat itu
berkenankah kau menerima aku lagi?
aku akan kembaliu..


                                           Pakualaman, 03-03-2012 

Puisi Pertama


         puisi ini, aku temukan tidak sengaja disebuah buku pemikiran Islam, ditulis oleh Wan mohd nor daut, penulis merupakan orang Malaysia. puisi ini ditulis dihalaman 98, sebetulnya buku setebal 474 halama ini banyak terdapat puisi si penulis, namun saya agak kaget, karena puisi ini penulis kutip dari puisinya seorang Indonesia, aktifis 80an-awal 2000an Amin Rais, aku baru pertama kali ini tahu bahwa pak amin rais juga suka tulis puisi, dijaman tahun itu (pemerintahan orde baru) jarang sekali sastrawan, yang mengha silkan karya sekeritis ini.
         sayang nya, penulis buku tidak menyertakan judulnya. puisi ini menyuarakan kritikan terhadap orang-orang Indonesia (masyarakat biasa,para Pelajar, pengusaha,birokrat dan penguasa) yang lambat-laun terjerumus dalam sistim ndak bener kapitalisme. berikut puisi itu: 

BERGURU PADA SEJARAH



Modernisasi kemajuan teknologi serta pembangunan di era abat ini, telah membawa masyarakat kontemporer kita ke dalam berbagai sisi realitas-realitas baru kehidupan. Seperti, kenyamanan, kesenangan, keterpesonaan, kesempurnaan penampilan, kebebasan hasrat dll. Dengan kata lain, kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai pada masa sekarang ini, secara sadar atau tidak sadar berlahan-lahan namun pasti menyeret kita kedalam keadaan hidup yang serba peraktis, individualis, dan mudah terjebak dalam kenyamanan-kenyamanan hidup. Tidak memandang anak-anak atau remaja, dewasa atau orang tua, laki-laki atau perempuan, dia orang Islam atau non-Islam, seorang aktifis ataupun yang bukan aktifis.
Akhirnya hasil kemajuan dan modernisasi, dilain sisi telah mengakibatkan hilangnya realitas-realitas budaya masa lalu (Islam-pen), beserta kearifan-kearifan masa lampau, yang justeru lebih berharga bagi terbentuknya diri kita sebagai manusia yang beragama sekaligus beriman pada Allah Swt. Seperti kedalaman rasa, semangat silaturahmi, spiritualiatas, semangat moralitas, semangat pengorbanan, tidak tahan atas sebuah proses (ihtiar) dll. Misalnya dengan maju pesatnya teknologi komonikasi, secara sadar kita cenderung “menyingkat” silaturohmi dengan sekedar kirim pesan singkat, telefon, maupun lewat dunia maya, dari pada berkunjung saling berjabat tangan, dan mengucapkan salam saling mendoakan (budaya Islam-pen) secara bertatab muka. Atau misalnya dengan kemajuan informasi saat ini, nilai-nilai budaya luar telah masuk secara mudah ke relung-relung masyarakat kita maupun diri kita, tidak hanya budaya-budaya pop, gaya hidup yang hedonis, atau model-model busana yang serba wah, namun juga nilai-nilai kehidupan masyarakat juga terpengaruhi. Contohnya, sekarang ukuran-ukuran keberhasilan seseorang bukan diukur dari sisi Agama, akan tetapi diukur dengan sesuatu yang bersifat fisik dan serba materilistis, tapi diukur dengan macam pekerjaan, jabatan/pangkat, penghasilan, tempat tinggal, kendaraan atau hal-hal lain yang kasat mata. Misalnya lagi, dengan kemajuan tersebut, mengiring setiap sendi kehiduapan untuk selalau berbuat serba cepat, simpel dan cari mudahnya. Contohnya, dalam dunia pendidikan, kurikulum dibuat agar sebanyak-banyaknya menerima mahasiswa dan secapatnya meluluskannya (dan mungkin juga kita berada didalamnya).
Dalam dunia pergerakan, penulis sepakat, bahwa pengaruh-pengaruh buruk Modernisasi, kemajuan teknologi serta hasil pembangunan dan budaya yang dihasilkan di era abat ini, juga mempengaruhi pola-pola penyusunan strategi gerakan (juga mempengaruhi karakter SDM-SDM-nya). Dari gerakan dakwah maupun yang non dakwah, dari gerakan yang ikut parlemaen maupun yang tidak ikut parlemen. Agar kita memahami permasalahan ini sekaligus mempunyai jiwa serta mental besar sebagi seorang muslim, tidak mudah terjerumus dalam kenyamanan-kenyamanan hidup, mampu memanfaatkan segala sesuatu denga tepat dan sangup menbaca  peluang-peluang untuk sebuah ambisi/cita-cita yang beasar (mengembalikan kehidupan Islam-pen). Tidak ada cara lain, selain terus belajar demi mengasah kemampuan, memupuk idialisme ataupun pengorbanan demi harapan besar tsb.
Untuk itu penulis mengangap penting, bahwa kita berlu menengok kembali sejarah perjuanggan sekaligus memahami secara dalam  perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita khususnya di negri ini. Agar kita dapat melihat jiwa pengorbanan, idialisme, strategi dan semangat mereka dalam berjuang, tentunya juga untuk membentengi diri dari pengaruh negative perubahan zaman, semakin percaya, semakin optimis, pantang menyerah serta dapat mengiklaskan apapun demi sebuah perjuangan. Tentunya tantangan-tantangan perjuangan dahulu dengan zaman sekarang berbeda, namun sejarah harus tetab kita fahami bahkan wajib kita ketahui. Karena seperti yang kita ketahui bersama “tidak ada orang besar kalau tidak tahu akan nenek buyutnya”, tidak ada Negara yang besar kalau tidak menghargai jasa-jasa para pahlawanya (sukarno-pen)”. Said Jamaludin Al-Afghany, pernah berkata “…tidak ada kemulyaan bagi kaum yang tidak mempunyai sejarah, tidak ada sejarah bagi kaum yang tidak mempunyai penulis-penulis yang sangup menuliskan dan mencatatkan jasa-jasa para pahlawan-pahlawanya, sehingga menjadi contoh bagi yang datang kemudian”. Dan kalau kita telisik lepih cermat, 2/3 kandungan Al-quran isinya adalah sejarah.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Belum tak kasih judul




Masih seperti pagi yang biasanya, orang2 selalu hilir-mudik di jalan-jalan, dengan berbagai jenis kendaraan yang mereka kendarai. Bila aku memperhatikan hal ini, selalu mengingatkanku pada ibuk-ibuk dan bapak-bapak di Kampungku yang keluar rumah setiap pagi selepas anak-anak kebanggaan mereka berangkat ke Sekolah. Nyaris dapat dipastikan mereka bergi jam 7.30. dan aku tahu tujuan meraka, ya.., merawat tanamannya di Ladang. Tapi di Jalan-jalan ini, aku tak tahu kemana tujuan orang-orang itu pergi. Kerja, kuliah, atau mumgkin ketempat lain?, ah…  tak taulah aku. Yang pasti dapat kurasakan jalan-jalan kota peningalan Ki Ageng Pemanahan (tanah Mataram) ini, semakin padat saja.