Senin, 06 Agustus 2012

BERGURU PADA SEJARAH



Modernisasi kemajuan teknologi serta pembangunan di era abat ini, telah membawa masyarakat kontemporer kita ke dalam berbagai sisi realitas-realitas baru kehidupan. Seperti, kenyamanan, kesenangan, keterpesonaan, kesempurnaan penampilan, kebebasan hasrat dll. Dengan kata lain, kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai pada masa sekarang ini, secara sadar atau tidak sadar berlahan-lahan namun pasti menyeret kita kedalam keadaan hidup yang serba peraktis, individualis, dan mudah terjebak dalam kenyamanan-kenyamanan hidup. Tidak memandang anak-anak atau remaja, dewasa atau orang tua, laki-laki atau perempuan, dia orang Islam atau non-Islam, seorang aktifis ataupun yang bukan aktifis.
Akhirnya hasil kemajuan dan modernisasi, dilain sisi telah mengakibatkan hilangnya realitas-realitas budaya masa lalu (Islam-pen), beserta kearifan-kearifan masa lampau, yang justeru lebih berharga bagi terbentuknya diri kita sebagai manusia yang beragama sekaligus beriman pada Allah Swt. Seperti kedalaman rasa, semangat silaturahmi, spiritualiatas, semangat moralitas, semangat pengorbanan, tidak tahan atas sebuah proses (ihtiar) dll. Misalnya dengan maju pesatnya teknologi komonikasi, secara sadar kita cenderung “menyingkat” silaturohmi dengan sekedar kirim pesan singkat, telefon, maupun lewat dunia maya, dari pada berkunjung saling berjabat tangan, dan mengucapkan salam saling mendoakan (budaya Islam-pen) secara bertatab muka. Atau misalnya dengan kemajuan informasi saat ini, nilai-nilai budaya luar telah masuk secara mudah ke relung-relung masyarakat kita maupun diri kita, tidak hanya budaya-budaya pop, gaya hidup yang hedonis, atau model-model busana yang serba wah, namun juga nilai-nilai kehidupan masyarakat juga terpengaruhi. Contohnya, sekarang ukuran-ukuran keberhasilan seseorang bukan diukur dari sisi Agama, akan tetapi diukur dengan sesuatu yang bersifat fisik dan serba materilistis, tapi diukur dengan macam pekerjaan, jabatan/pangkat, penghasilan, tempat tinggal, kendaraan atau hal-hal lain yang kasat mata. Misalnya lagi, dengan kemajuan tersebut, mengiring setiap sendi kehiduapan untuk selalau berbuat serba cepat, simpel dan cari mudahnya. Contohnya, dalam dunia pendidikan, kurikulum dibuat agar sebanyak-banyaknya menerima mahasiswa dan secapatnya meluluskannya (dan mungkin juga kita berada didalamnya).
Dalam dunia pergerakan, penulis sepakat, bahwa pengaruh-pengaruh buruk Modernisasi, kemajuan teknologi serta hasil pembangunan dan budaya yang dihasilkan di era abat ini, juga mempengaruhi pola-pola penyusunan strategi gerakan (juga mempengaruhi karakter SDM-SDM-nya). Dari gerakan dakwah maupun yang non dakwah, dari gerakan yang ikut parlemaen maupun yang tidak ikut parlemen. Agar kita memahami permasalahan ini sekaligus mempunyai jiwa serta mental besar sebagi seorang muslim, tidak mudah terjerumus dalam kenyamanan-kenyamanan hidup, mampu memanfaatkan segala sesuatu denga tepat dan sangup menbaca  peluang-peluang untuk sebuah ambisi/cita-cita yang beasar (mengembalikan kehidupan Islam-pen). Tidak ada cara lain, selain terus belajar demi mengasah kemampuan, memupuk idialisme ataupun pengorbanan demi harapan besar tsb.
Untuk itu penulis mengangap penting, bahwa kita berlu menengok kembali sejarah perjuanggan sekaligus memahami secara dalam  perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita khususnya di negri ini. Agar kita dapat melihat jiwa pengorbanan, idialisme, strategi dan semangat mereka dalam berjuang, tentunya juga untuk membentengi diri dari pengaruh negative perubahan zaman, semakin percaya, semakin optimis, pantang menyerah serta dapat mengiklaskan apapun demi sebuah perjuangan. Tentunya tantangan-tantangan perjuangan dahulu dengan zaman sekarang berbeda, namun sejarah harus tetab kita fahami bahkan wajib kita ketahui. Karena seperti yang kita ketahui bersama “tidak ada orang besar kalau tidak tahu akan nenek buyutnya”, tidak ada Negara yang besar kalau tidak menghargai jasa-jasa para pahlawanya (sukarno-pen)”. Said Jamaludin Al-Afghany, pernah berkata “…tidak ada kemulyaan bagi kaum yang tidak mempunyai sejarah, tidak ada sejarah bagi kaum yang tidak mempunyai penulis-penulis yang sangup menuliskan dan mencatatkan jasa-jasa para pahlawan-pahlawanya, sehingga menjadi contoh bagi yang datang kemudian”. Dan kalau kita telisik lepih cermat, 2/3 kandungan Al-quran isinya adalah sejarah.


Selanjutnya perlu diketahui, disini penulis mengkhususkan sedikit mengulas kembali sejarah tokoh-tokoh Islam nusantara, yang memang merupakan generasi-generasi pendahulu kita sekaligus ditanah kelahiran kita, yang bias jadi kurang kita pahami, (atau mungkin belum kita kenal sama sekali) bagaimana sepak terjang mereka dalam mengarungi pahit-manisnya perjuangan. Ada banyak tokoh-tokoh nusantara yang memperjuangkan Islam, Misalnya:
Sebelum kemerdekaan
-          Fathahillah (Fadhillah Khan Al-Pasai)
-          Nuruddin Ar-Raniri
-          Syaikh Yusuf  Makassar
-          Trunojoyo (Madura)
-          Pangeran Diponegoro
-          Tuanku Imam Bonjol
-          Teuku Umar
-          Syaikh Nawawi Al-Bantani
-          Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
-          Syaikh Hasyim Asy’ari
-          Oemar Said Cokroaminoto
-          Kyai Mojo
-          Sentot pawirodherjo
-          K.H. Ahmad Dahlan
-          KH Abdul Wahab Hasbullah
-          K.H. A. Hassan
Paska kemerdekaan
-          Karto Suweryo
-          Kahar Muzakar
-          K.H Agus Salim
-          Ki Bagus Hadikusumo
-          Muhammad Natsir
-          Buya HAMKA
-          dll.

Contoh ini cuma sebagaian kecil saja, bila kita lihat dari masa wali songo hinga zaman paska kemerdekaan akan banyak lagi nama-nama yang juga konsisten tentang perjuangan Islam. Merupakan keharusan bagi kita untuk mengetahui serta memahami aktifitas mereka semua tanpa terkecuali di bumi nusantara ini, untuk menambah bekal dalam meneruskan atau menyempurnakan perjuangan sekaligus pengorbanan meraka dalam memperjuangkan Islam.
Disini penulis tidak mungkin menulis semua tokoh-tokoh diatas, tapi cuma membicarakan beberapa tokoh saja, yang saya anggap mendesak untuk kita pahami bersama, penulis juga tidak panjang lebar menulis disetiap tokohnya, (tapi yang penulis angap penting), mengenai hal ini, penulis mencoba mencari hal-hal yang belum diungkapkan (atau sengaja tidak diungkap) oleh kebanyakan penulis sejarah saat ini, yang telah dicetak/didiskusikan disekolah-sekolah maupun diforum diskusi-diskusi yang selama ini sudah kita dapatkan dan temui.

a.   Pangeran Diponegoro
Pecah perang jawa atau perang Diponegoro (1825-1830), adalah pengalaman pahit yang dihadapi oleh kolonoal Belanda dari umat Islam. Kita tidak mengurai sejarah perang itu, yang akan kita bicarakan disini bagaimana jiwa pangeran Diponegoro digemleng sehingga menjadi muslim sejati dan mendorongnya memantapkan tekat untuk berjuang melawan kesewenang-wenangan. Diponegoro kecil mendapat didikan dari neneknya Ratu Ageng, janda Hamengkubuwono I. janda sultan ini, hidup di Istana kecil di Tegal Rejo, dalam istana itulah Diponegara dibesarkan. Disana dia dididik, diajar mengaji qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam. Sang Ratu mendatangkan ulama-ulama shaleh kedalam istana buat mengajar cucunya, tidak mendidik Diponegoro kecil dengan gaya keraton mataram yang telah terwarnai oleh kolonial belanda. Sehingga Islam yang lebih mewarnai hidup sekaligus bersatu dalam darah dagingnya.
Ajaran-ajaran tashauf-suni yang dipelopori oleh Imam Al-Gozali, ternyata sangat mempengaruhi jiwanya. Ajaran tashauf Diponegoro bukan seperti tashauf (yang terkenal dengan kehiduan sufi) yang difahami orang-orang jawa, yang tidak peduli pada hiruk-pikuk dunia dan cenderung kelenik. Diponegoro tidak serta-merta meninggalkan hal-hal yang menjadi kewajipan sebagi seorang muslim. Seperti dizaman Ibnu Taimiyah yang seorang sufi tapi beliau menyambut pangilan berjihad fi sabilillah dengan mendaftar sebai prajurit. Atau Sultan Murat I, ayah dari Sultan Muhammad penakluk Constatinopel, telah meninggalkan singgasana hendak hidup secara shufi, tetapi setelah didengarnya musuh hendak menyerang kerajaannya, baginda pulang lagi keistana dan mengambil alih kekuasaan yang tadinya telah dipasrahkan keputranya, bagindapun terjun kemedan perang untuk menaklukkan musuh-musuhnya yang menghiyanati janji.[1] Diponegoro muda pun gemar menjadi musyafir, pergi dari tempat satu ketampat lain untuk menemui orang alim dan yang dipandang lebih berilmu untuk timintai teladan, saran sekaligus menjadi murid dari orang-orang tersebut. Beliaupun meninggalkan gelar-gelar kebangsawanannya, baik gelar Raden, Gusti atau Pangeran. Ia lebih suka mengunakan gelar syeh sekaligus mengubah namanya menjadi Syeh Abdul Hamid, dan jauh sebelum naik haji beliau telah menanggalkan busana-busana kebesaran (budaya) Keraton Mataram, bukan balangkon, daster  yang gemerlap dengan simbul-simbul keraton yang melekat pada diri Diponegora, tapi beliu lebih suka memakai jubah dan surban. Dalam sejarah mataram, beliaulah satau-satunya keturunan Sultan yang mengunakan busana Islam.
Tidak hanya itu, Diponegoro rela “mundur” dari majeles Ragen,[2]  karena majelis tersebut, dalam pandanggan Diponegoro telah kental dengan campur tanggan orang2 kafir belanda. Atas dasar ini lah perang Diponegoro pecah, dan pemantik/ruh perang itu tidak lain dan tidak bukan hanya semata-mata karena Islam bukan yang lain. Seperti jawaban Kyai Mojo waktu ditanya belanda, “tujuan Diponegoro adalah menaikkan derajat Agama Islam di seluruh tanah jawa.
Setelah perang Diponegoro, muncul nama R. Ng. Ronggowarsito (1803-1875) Abdi Dalem istana. Ia seorang pujangga dan penyair, yang berusaha keras membelokkan perhatian orang-orang jawa dari ajaran-ajaran Islam lewat karya-karyanya, yang pada waktu itu telah susah payah diperjuangkan Diponegoro. Waktu itu menyebarlah karya-karya yang isinya mengebiri ajaran Islam, hapuskan pengaruh Arab, Arabisme tidak sesuai dengan jiwa orang jawa, Dipenogora telah celaka karena gara-gara belajar ajaran-ajaran dari Arab. Kemudian dikembangkan secara halus agar Agama Islam yang membawa anasir anti penjajah jadi hilang pengaruhnya di masyarakat, kalau orang hendak ber-Islam, biarlah Islam kebatinan saja dan semua Agama itu diangab sama. Setalah nama Diponegoro dikutuk, baru direhabilitasi kembali setalah timbul gerakan Islam, tetapi masih banyak yang mencoba meisahkan perjuangan beliau dari yang berbau Islam.[3]
Lalu kalau Diponegoro dahulu hanya sepakat dan memperjuangkan ajaran-ajaran Islam, bukan ajaran-ajaran yang datang dari belanda atau yang lain. Lalu dimana dengan peraturan-peraturan negeri ini yang 70% lebih, merupakan peninggalan kolonial. Atau bagai mana dengan ajaran pancasila, demokrasi, kapitalime (yang menyeret masyarakat dalam pusara matrealistis) dll. Yang notabenenya memudarkan kewibawaan Islam.

b, Muhammad Natsir  
Muhammad Natsir adalah putra kelahiran Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat 17, Juli 1908, dengan gelar Datuk Sinaro Panjang. Dimata sahabat-sahabatnya beliau merupakan orang yang penuh sopan santun, rendah hati dan bersuara lembut meskipun terhadap lawan-lawan politiknya. Ia juga sangat bersahaja dan kadang-kadang gemar bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya.
Pendidikan agama mulanya diperoleh dari orang tuanya, kemudian ia masuk Madrasah Diniyah di Solok pada sore hari dan belajar mengaji Al Qur’an pada malam hari di surau. Pengetahuan agamanya bertambah dalam di Bandung ketika dia berguru kepada ustaz Abbas Hasan, tokoh Persatuan Islam di Bandung. Kepribadian A Hasan dan tokoh-tokoh lainnya yang hidup sederhana, rapi dalam bekerja, alim dan tajam argumentasinya dan berani mengemukakan pendapat tampaknya cukup berpengaruh pada kepribadian Natsir kemudian. Natsir mendalami Islam, bukan hanya mengenai teologi (tauhid), ilmu fiqih (syari’ah), tafsir dan hadis semata, tetapi juga filsafat, sejarah, kebudayaan dan politik Islam. Di samping itu ia juga belajar dari H. Agus Salim, Syekh Ahmad Soorkati, HOS Cokroaminoto dan A.M. Sangaji, tokoh-tokoh Islam terkemuka pada waktu itu. Pengalaman ini semua memperkokoh keyakinan Natsir untuk berjuang dalam menegakkan agama Islam. Berbeda dengan tokoh pergerakan lainnya, sejak semula Natsir juga bergerak di bidang dakwah untuk membina kader. Pada mulanya ia aktif dalam pendidikan agama di Bandung, kemudian mendirikan lembaga Pendidikan Islam (Pendis) yang mengasuh sekolah dari TK, HIS, Mulo dan Kweekschool yang dipimpinnya 1932-1942. Di samping itu ia rajin menulis artikel di majalah terkemuka, seperti Panji Islam, Al Manar, Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat. Dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan Islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti Islam seperti Ir. Sukarno dan Dr. Sutomo. Khusus dengan Sukarno, Natsir terlibat polemik hebat dan panjang antara tahun 1936-1940an tentang bentuk dan dasar negara Indonesia yang akan didirikan. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi ala Turki di bawah Kemal Attaturk dan mempertahankan ide kesatuan agama dan negara. Tulisan-tulisannya yang mengeritik pandangan nasionalis sekuler Sukarno ini kemudian dibukukan bersama tulisan lainnya dalam dua jilid buku Capita Selecta.
Sampai disini, kita dapat menggaris bawai bahwa perjuangan ternyata tidak hanya berbekal semangat belaka. Namun harus menyertakan kemampuan individu, berupa ilmu, selalu berguru pada orang-orang besar, bertekat baja, maupun harus mempunya idialisme yang tinggi.selanjutnya berikut ini beberapa pemikiran-pemikiran M Natsir, yang penteng kita fahami:
-          Agama Islam berbeda dengan agama lain, Islam mempunyai beberapa bagian aturan yang berkenaan dengan hukum-hukum kenegaraan, ataupun bermuamalah yang bagian-bagian itu tidak dapat dipisahkan dari agama Islam itu sendiri. Dalam kata lain kalau kita cermati, Islam tidak dapat dilaksanakan secara benar kalau tidak ada campur tangan Negara.
-          Islam memang mempunyai sifat “demokratis”, akan tetapi tidak semata-mata semua ajaranya (hokum-hukum yang sudah tetap/pasti) ditentukan dengan demokrasi, dimana ketentuan-ketentuanyaditentuakan pada undian suara “separuh tambah-satu”. Dalam Negara Islam yang bias dimusyawarahkan itu yang ialah urusan-urusan keduniaan yang belum ada ketentuannya dalam hokum-hukum agama.
-          Apa bila ada yang bertanya, bagai mana nasip umat non-Islam, bila Negara macam Indonesia memberlakukan aturan Islam. Maka kita jawab, umat lain tidak usah kuatir karena Islam melindungi mereka seluas-luasnya, malah lebih luas lagi bila dibandingkan dengan dari pada apa yang mungkin diberikan oleh Negara-negara Eropa sekarang kepada agama-agam yang ada disana. Dan peraturan-peraturan Islam dalam bermuamalah atau tidak ada yang bertentangan dengan agama lain, dengan berlakunya undang-undang Islam, tidak akan merusak, ataupun menggangu kepercayaan lain, mereka tidak akan kekurangan suatu apapun.
-          Tetapi sebaliknya, apa bila ada orang yang tidak setuju bila Negara itu berhukum dengan hokum-hukum Islam, dengan alasan tidak mau merusak hati orang-orang non-Islam, sebenarnya (dengan tidak sadar atau memang disengaja) berlaku zalim pada umat Islam itu sendiri, yang jumlahnya 20 kali lipat dari jumlah orang-orang non-Islam.
-          Masalah Agama dan Negara itu merupakan masallah yang teramat penting, bukan berari masalah ritual seperti sholat, wudu atau yang berkenaan dengan ibadah makdoh dan segala tetek-bengeknya tidak penting. Islam mengatur semuanya, keberhasilan seorang muslim tidak hanya diakirat saja tapi dunia akhirat[4].

Demikian beberapa pemikiran M. Natsir, sebetulnya masih banyak pemikiran beliau yang lain termasuk mengapa M. Natsir pertentangan pemikiran dengan Suekarno, namun terkait ejan lama direferensi itu memerlukan waktu untuk memahami tulisan tersebut, karna itu disini hanya ini yang penulis utarakan,.
            Inilah contoh sepak-terjang dan beberapa pemikiran para pendahulu kita yang dapat penulis sampaikan. Harapanya dengan mengetaui sejarh ini kita dapat meluruskan kembali kisah-kisah, teladan dan cita-cita meraka kepada generasi saat ini dan tentunya kepada generasi setelah kita, dari pengaburan-pengaburan atau penghapusan sejarah oleh orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Dengan ini pula semoga kita dapat mewarisi, semangat mereka, jiwa besar mereka, pengorbanan mereka dalam memperjuangkan Islam. Dan yang pasti kita dapat melewati cobaan-cobaan sekaligus tantangan-tantangan yang hadir dizaman yang serba modernis ini, sebuah zaman yang menghasilkan kebudayaan-kebudayaan baru yang semakin menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai transindental ajaran Islam.
Wallahu a’lam bi ash-shawwab.


Daftar pustaka

1.      Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia (Jakarta, Bulan Bintang, 1971)
2.      M. Natsir, “Capita Selecta” (Jakarta, Bulan Bintang, 1945)
3.      Al-wa’ie edisi Mei 2012
4.      Hamka, “Said jamaluddin Al-Afghani, (Jakarta, Bulan Bintang, 1981)
5.      Yasraf Amir piliang, “Sebuah Dunia yang dilipat” (Bandung, Mizan, 1998)
6.      Prof. Dr. Hasanu Simon, “Misteri Syeh Siti Jenar, Peran wali songo dalam mengislamkan Tanah Jawa” (Yogyakarta,  Pustaka Pelajar, 2008)
7.      Salim Fredericks, “Invasi Politik dan Budaya” (Jakarta, PTI, 2002)
8.      H. Aquib suminto, “Politik Islam Hindia Belanda” (Jakarta, LP3ES, 1985)


[1]  Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia (Jakarta, Bulan Bintang, 1971), hlm. 77.

[2] Majelis ini dibentuk oleh campur tangan colonial yang berfungsi untuk menjalankan pemerintahan sementara mataram, karena pada waktu itu Sultan Hamengkubuwono V masih kecil. Majeles itu terdiri dari Pangeran Mangkubumi, Diponegoro, Ratu Kencono, (ibu Sultan) dan Ratu Agung (nenek Sultan)
[3] Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia (Jakarta, Bulan Bintang, 1971), hlm. 88
[4] M. Natsir, “Capita Selecta” (Jakarta, Bulan Bintang, 1945)hal. 490-495

1 komentar:

  1. eehh.. soorii.. kawan2, tulisan ini memang blum komplit.. sebetulnya ada beberapa tokoh yg perlu disampakan disini, tpi blum smpat.. maklumlah..

    BalasHapus