“… bila Negara ini
mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, maka, sama saja kita menuju jalan
ke Neraka…”
Itulah Salah satu penggalan
syair tercantik diawal bulan ini yang sempat mampir ketelingaku. Syair tersebut
disuarakan lantang oleh tokoh nasional 63 tahun-nan yg lalu. Gara2 syair ini,
beliau dibenci pemerintah bahkan endingnya dipenjarakan. Tpi apakah beliau
gentar..?, saya kira saudara2 tahu jawabannya.
Lantas, apakah “syair” kita saat
ini, yang membuat kita dipenjarakan?. Tidak ada Bung..! tidak ada.
malah sewindu lebih saya
“disini”, saya sering diajarkan tentang sebuah keberhasilan yg menurutku tidak sebanding
lulus dengan makna perjuangan, coba simak baik2, celoteh mereka, “teman2 terbaikku,
hidup ini Cuma sekali, maka kita harus selalu sukses, sukses, study, sukses
bekerja/ekonomi, sukses keluarga, sukses ber……., sukses, sukses,…”.
Kalau begitu, dimana letak
sebuah pengorbanan itu di saat kondisi seperti ini?, apakah berbagai kesuksesan
di atas dapat kita raih, padahal kita berada di era-“perjuangan”?, masih sempatkah
menyusun siasat demi kesuksesan pribadi?, sementara waktu kita dalam sehari-semalam
tidak lebih dari 24 jam. Ataukah makna sukses yg meraka maksut masih dalam
tanda petik (“)?. Kalau begitu (secara makna bahasa), sama saja kita mengunakan
kata Demokrasi, walau demokrasi yg kita maksut berbeda dengan anggapan orang
kebanyakan, itu juga tidak boleh bukan…
Ataukah sekarang makna
Perjuangan sudah bermetamurfoses, yang dulu identik dengan pengorbahan dan
ketidak nyamanan, sekarang berganti menjadi sesuatu yg mengembirakan, penuh
kesuksesan dan kenyamanan. Wah jadi prihatin… jadi ingin menyannyikan lahunya
Bang Iwan “…. Hujan.. air mata dari pelosok negeri…”
Hiii..hii.. tenang.. tenanglah
kawan.. tak usahlah jadi serius begitu..
(((sebetulnya tulisan ini tercipta
gara2 tulisan “sewindu” tempo hari di blog ini.. karena ada komentar2/bisikan2
yg begitu mengkuwatirkan, dikait2kan dgn yg begituan. Situasi masih dalam
status gazwat, e.eh.. penafsiran masih begitu dangkal.., pdhal maksutku begitu
dalam, sedalam lautan Atlantik. Apakah kita melupakan sesuatu?, Bang Ebit G.A.D
saja pernah bersyair, “…semua punya giliran dan bagiannya sendiri-sendiri...”.
Maka untuk satu KATA itu, maaf saudara, aku masih begitu ndak suka,.))).. ngapunten.. *khusus pragraf ini, untuk yg dong
alias yg mengerti saja. yg tidak faham, anggap saja paragraf ini tak ada.
Lhoo.. kok tetap serius to.. tenang..
tenanglah bung, mari2.. kita ‘santai’ saja, seperti di pantai..
Kalau syair yg saya tulis di
atas, itu syair tahun 45an. Di awal tahun ini (2013) salah satu “syair” tercakep
(menurut sya lhoo.. ) itu ‘syair’nya Kristiano Ronaldo. laki-laki flamboyan dan
pemain sayap paling ‘mematikan’
sejagat raya ini., kemarin bikin ‘ulah’, tidak mau bertukar kaus waktu usai
pertandingan Portugal VS Israel dipenyisihan piala dunia. (karena ronaldo
sepakat klau Israil begitu curang sama Palestina), sebelumnya dia juga melelang
sepatunya yg laku beberapa milyar untuk anak2 Palestina.
Klau ada yg komentar “wah.. bung..
kayak gitu aja cakep.. biasa ajalah”, saya jawab dengan klise, “ya.. kita ukur
orangnya Bung, siapa dulu yg bikin syair, andai kita seprti Ronaldo yg
bergelimang fens dan kekayaan, ditambah tidak punya dasar2 pemikiran, akankah
kita mampu bikin ‘syair’ seperti itu”. Karena ‘syair’ Ronaldo begitu beresiko,
bisa di tingalkan berjuta-juta fens atau mungkin pengusaha2 besar tidak
memakainya menjadi bintang iklan, Lha ‘wong’ kita yg tahu arti sebuah pemikiran
saja tidak begitu jelas apa ‘syair’ kita ?”. hayoo.. kira2 apa resiko dari ‘syair-syair’
kita saat ini…? Belum begitu jelaskan..
kitapun masih tenang2 saja
menjalankan agenda2 pribadi, padahal sudah ‘bersumpah’ demi jiwa dan raga,
ditembah dengan kalimat yg begitu gagah, “hingga titik keringat penghabisan”.
Patutnya ‘syair2’ itu harus
beresiko Bung, harus jelas, bukan abu2, tidak malah menawarkan kesuksesan dan kenyamanan,
apa lagi ‘syair’ untuk perjuangan.
Bara itu tak akan pernah menjadi
api kawan, tanpa sebuah pengorbanan. Apakah kita memang tidak tahu, bagaimana
sejatinya hidup di era perjuangan…?, menurut saya, hidup nyaman di masa
perjuangan adalah bentuk penghianatan….
Maduretno, 15-05-2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar