Selasa, 14 Mei 2013

Syair-syair Crestiano Ronaldo/CR 7 (Sewindu II)



“… bila Negara ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, maka, sama saja kita menuju jalan ke Neraka…”

Itulah Salah satu penggalan syair tercantik diawal bulan ini yang sempat mampir ketelingaku. Syair tersebut disuarakan lantang oleh tokoh nasional 63 tahun-nan yg lalu. Gara2 syair ini, beliau dibenci pemerintah bahkan endingnya dipenjarakan. Tpi apakah beliau gentar..?, saya kira saudara2 tahu jawabannya.
Lantas, apakah “syair” kita saat ini, yang membuat kita dipenjarakan?. Tidak ada Bung..! tidak ada.

malah sewindu lebih saya “disini”, saya sering diajarkan tentang sebuah keberhasilan yg menurutku tidak sebanding lulus dengan makna perjuangan, coba simak baik2, celoteh mereka, “teman2 terbaikku, hidup ini Cuma sekali, maka kita harus selalu sukses, sukses, study, sukses bekerja/ekonomi, sukses keluarga, sukses ber……., sukses, sukses,…”.
Kalau begitu, dimana letak sebuah pengorbanan itu di saat kondisi seperti ini?, apakah berbagai kesuksesan di atas dapat kita raih, padahal kita berada di era-“perjuangan”?, masih sempatkah menyusun siasat demi kesuksesan pribadi?, sementara waktu kita dalam sehari-semalam tidak lebih dari 24 jam. Ataukah makna sukses yg meraka maksut masih dalam tanda petik (“)?. Kalau begitu (secara makna bahasa), sama saja kita mengunakan kata Demokrasi, walau demokrasi yg kita maksut berbeda dengan anggapan orang kebanyakan, itu juga tidak boleh bukan…
Ataukah sekarang makna Perjuangan sudah bermetamurfoses, yang dulu identik dengan pengorbahan dan ketidak nyamanan, sekarang berganti menjadi sesuatu yg mengembirakan, penuh kesuksesan dan kenyamanan. Wah jadi prihatin… jadi ingin menyannyikan lahunya Bang Iwan “…. Hujan.. air mata dari pelosok negeri…”
Hiii..hii.. tenang.. tenanglah kawan.. tak usahlah jadi serius begitu..
(((sebetulnya tulisan ini tercipta gara2 tulisan “sewindu” tempo hari di blog ini.. karena ada komentar2/bisikan2 yg begitu mengkuwatirkan, dikait2kan dgn yg begituan. Situasi masih dalam status gazwat, e.eh.. penafsiran masih begitu dangkal.., pdhal maksutku begitu dalam, sedalam lautan Atlantik. Apakah kita melupakan sesuatu?, Bang Ebit G.A.D saja pernah bersyair, “…semua punya giliran dan bagiannya sendiri-sendiri...”. Maka untuk satu KATA itu, maaf saudara, aku masih begitu ndak suka,.))).. ngapunten.. *khusus pragraf ini, untuk yg dong alias yg mengerti saja. yg tidak faham, anggap saja paragraf ini tak ada.
Lhoo.. kok tetap serius to.. tenang.. tenanglah bung, mari2.. kita ‘santai’ saja, seperti di pantai..

Kalau syair yg saya tulis di atas, itu syair tahun 45an. Di awal tahun ini (2013) salah satu “syair” tercakep (menurut sya lhoo.. ) itu ‘syair’nya Kristiano Ronaldo. laki-laki flamboyan dan pemain sayap paling ‘mematikan’ sejagat raya ini., kemarin bikin ‘ulah’, tidak mau bertukar kaus waktu usai pertandingan Portugal VS Israel dipenyisihan piala dunia. (karena ronaldo sepakat klau Israil begitu curang sama Palestina), sebelumnya dia juga melelang sepatunya yg laku beberapa milyar untuk anak2 Palestina.
Klau ada yg komentar “wah.. bung.. kayak gitu aja cakep.. biasa ajalah”, saya jawab dengan klise, “ya.. kita ukur orangnya Bung, siapa dulu yg bikin syair, andai kita seprti Ronaldo yg bergelimang fens dan kekayaan, ditambah tidak punya dasar2 pemikiran, akankah kita mampu bikin ‘syair’ seperti itu”. Karena ‘syair’ Ronaldo begitu beresiko, bisa di tingalkan berjuta-juta fens atau mungkin pengusaha2 besar tidak memakainya menjadi bintang iklan, Lha ‘wong’ kita yg tahu arti sebuah pemikiran saja tidak begitu jelas apa ‘syair’ kita ?”. hayoo.. kira2 apa resiko dari ‘syair-syair’ kita saat ini…? Belum begitu jelaskan..
kitapun masih tenang2 saja menjalankan agenda2 pribadi, padahal sudah ‘bersumpah’ demi jiwa dan raga, ditembah dengan kalimat yg begitu gagah, “hingga titik keringat penghabisan”.
Patutnya ‘syair2’ itu harus beresiko Bung, harus jelas, bukan abu2, tidak malah menawarkan kesuksesan dan kenyamanan, apa lagi ‘syair’ untuk perjuangan.
Bara itu tak akan pernah menjadi api kawan, tanpa sebuah pengorbanan. Apakah kita memang tidak tahu, bagaimana sejatinya hidup di era perjuangan…?, menurut saya, hidup nyaman di masa perjuangan adalah bentuk penghianatan….
                          
                                                                               Maduretno, 15-05-2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar