“…terkadang, rasa
terombang-ambing yg membuat bimbang akan terus datang. kata-kata mesra menjadi
terkunci dan sulit dikeluarkan lagi...”
Aku
cepat-cepat meng klik tautan itu, kabar yg menurutku begitu menarik, sebuah
info berkenaan dengan seseorang yg beberapa bulan ini begitu mempengaruhi
seleraku. Tapi beberapa menit kutungu tautan itu tak Nampak, ku klik lagi,
tetap ndak muncul, wah agak geregetan juga. Lantas ku klik ber kali-kali,
wah..duh malah muncul tulisan ‘problem lauding page’ dan
‘Unable to connect’
disertai tanda seru didalam persegi tiga warna kuning, wah..wah apa pula tuh
artinya.. tanda itu mirip rambu2 dijalan kampungku, bedanya klo dikampungku
disertai tulisan yg begitu tidak rapi namun jelas dapat dipahami, “orasah
ngebut dab, montor seng kridit tor seng tuku bapakmu we,, nggaayaa….!” (tak
usah ngebut2 maz.. motor kriditan dan punyak babak lho.. aja.. somboong..)
Sangat
ngak mungkin tulisan itu sama dengan tulisan rambu2 dijalan utama kampungku.. (wah
beginilah orang yg ingatannya sangat buruk.. begitu keropotan mengingat-ingat
hal2 yg asing) Karena ini modem, jelas2
dibeli dengan uang sendiri, khes lagi.. aku jadi memaki-maki merek yg tertulis
anggun di benda mungil itu. Padahal aku terprovokasi dan mengorbankan uang simpananku
demi benda tersebut gara2 kata-kata dalam sepanduk “….jaringan anti lelet…”,
begitu kurangajar tu iklan, grutuku. Setelah ku utak-utik dan menungu sekitar 15
menitan, muncul juga isi info dalam tautan itu, ku baca dari awal hinga akhir..
wah.. beberapa kali aku tersenyum menikmati susunan kalimat2 itu.. lantas, hal
yg sudah biasa terjadi, sebuah inspirasi muncul berkelebat. Segera saya mengkanibal
salah satu kalimat dalam tulisan itu dengan pikiran di otakku, lantas ku ketik
dengan tergesa hasil kanibal itu:
“Sebab, tetap mencintai pada suasana yg
tersulit, merupakan hasil dari komitmen. Walau terkadang, rasa terombang-ambing
yg membuat bimbang akan terus datang. kata-kata mesra menjadi terkunci dan
sulit dikeluarkan lagi. Namun, ketika komitmen itu tetap rapi terjaga, Itulah
pengorbanan dalam kesetiyaan”
Setelah
menulis kalimat itu, segera ku hampiri Arsa. Kemarin2 Ia teman satu kamar, sekarang
pindah kamar, entah karena apa, padahal sudah kuanggap sebagai adikku. Sekamar 6
bulanan, sering mengantar-jembut kesekolah dan pernah juga mengambilkan Rapornya,
mungkin karena itu aku jadi merasa punnya adik laki-laki. Kudapati dia
dikamarnya sedang mengerjakan pekerjaan rumah (PR), kubilang padanya “ada Novel
baru ni, beli yuk…!,” untuk urusan baca Novel selera kami tidak jauh berbeda.
“SEWINDU, ya mas.. wah di jokja belum ada maz”, sautnya. Ba da la.. anak ini
sudah tahu rupanya, “lha dah tau po?”, “yo tahu lah mas.. di FB ku di tek
teman”.. “woo.. kamu juga dapat tautan itu too”? tanyaku singkat, “ ya mas..,
kayaknya juga mahal harganya, 70 ribuan, besok aku pinjem aja ya maz”,
jawabnya.
Wa..duh..
rencanaku gagal ini, biasanya dia langsung memburu tulisan barunya orang Gunung
kidul itu,, sekarang saja dia punya 5 judul Novel dengan penulis yg sama,
‘TASARO’. niatku ingin bujuk Arsa untuk beli itu buku, dan saya numpang baca..
kok malah kebalik, “yo wes lah, kayaknya besok aku juga pinjem teman saja”,
ucapku sambari meninglkan kamarnya,. Lantas ku dengar suara, “ha..ha.ha…..!”
jelas datang dari kamar Arsa.
Sebetulnya
saya tidak begitu suka baca Novel, dulu2 saya tak begitu berminat mengkonsumsi
yg beginian…. Suweeer..! seingatku Novel yg pertama ku baca sampai khatam
berjudul ‘Sang Alkhemis’, itu pun aku tergoda oleh komentarnya Pak Subhan
Ahmadi, Guruku dalm membaca Al-Quran, Bapak dua anak ini begitu berapi2 (seperti
para aktiwis berorasi di malioboro memprotes RUU Ormas 2 minguan lalu…) berbicara
tentang makna Novel yg penulisnya… wah..duh.. lupa lagi aku.. siapa namanya..
kayaknya pake Paulo..paulo gitulah.. lupalah, tak pentenglah siapa penulisnya,
yang jelas aku langsung memburu buku itu dan merelakan uang 40an ribu, padahal
buku itu sangat tipis untuk sebuah Novel.
Setelah
itu akupun jadi agak ketagian baca Novel, walaupun tidak sembarang Novel kubaca.
Biasanya bila ada referensi2 dari teman2, sekaligus bisa baca secara Free,
itupun aku pilih2 lagi. Nah.. pada satu saat saya tidak sengaja menemukan Novel
yg cukup tebal, kali ini aku tertarik bukan karena referensi dari teman, tetapi
itu murni karena ketertarikanku dengan judul novel itu,,, judulnya… wah duh
lupa lagi aku… judulnya apa ya.?. maklumlah udah hampir 4 tahunan lalu (saya
juga Cuma pinjam) dan kata dalam judul itu bukan dari bahasa Indonesia, tpi dari
bahasa sang sekerta, seingatku sih...
‘Bulan’,
ya.. itu arti judul tersebut dalam bahasa Indonesia, klo yg ini bener2 dapat ku
pastikan.
Itu buku
‘Tasaro’ yg pertama aku baca,,, buatku isinya cuuakep.. bercerita tentang
seorang pendekar perembuan Islam dari china yang berpetualang ke nusantara, dan
bertemu dengan salah satu pimpinan kesatuan elite keamanan Raja Majapahit yg
beragama berbeda. Lebih kompelinya.. baca sendiri ajalah ya.. (udah berat ni
mata, tuk diajak tetap pentelengi layar leptop).
saya suka buku
karya mantan wartawan ini, karena tulisan2sannya cenderung sejarah dan
petualangan, bahasanya juga tidak berbelit2, mudah dimengerti dan begitu renyah,
sederhana apa adanya..
Buat teman2 yang ngak terlalu suka cerita romantis/motifasi
dengan kalimat dan cerita hiperbola yang terlalu melambungkan angan2,
sepertinya karya2 tasaro patut menjadi referensi.. eh..eh.. ini bukan iklan
lho.. sumpah.. lha wong saya tidak dapat apa2 kok…..):


galau nih yee...
BalasHapus1. Haha, sorry mas, aku kan pindah kamar utk memanfaatkan ruang yg kosong. :V
BalasHapus2. Seingatku ada yg sedikit beda itu dari prcakapan saat aku mngrjakan PR, heh, tapi tak apa mas. bagus bagus.. :)
ora po2 hiii..hii.. ben gayeng alias ben ramai wae...(d.
BalasHapus