Kamis, 26 April 2012


Perpindahan yang syahdu

Awal bulan ini, merupakan hari-hari yang mencemaskan sebagian dari kami. Bagaimana tidak, berita itu datang tiba-tiba, padahal kami sudah dua tahunan, belajar, makan, memasak, bercengkrama, bersendau-gurau, merancang agenda-agenda kegiyatan dan merasakan pahit-manis hidup bersama, satu atab lagi (wah kok jadi melankolis begini ya..?).
Berawal dari beberapa teman yang di”paksa” pergi/pindah (termasuk diriku),  berlanjut semuanya harus pindah, karena yang punya tempat akan menempati tempat tsb dalam jangka waktu 2/3 bulan lagi. Bagi enam orang dari kami, yang tidak mungkin lagi bergabung dengan saudara-saudara yang lain (yang sudah ada tempat), tambah cemas lagi. Karena kami harus mencari tempat tinggal sendiri, dan tidak diberi kepastian, kapan yang punya tempat mau menempati tempat miliknya itu.
Diwaktu makgrib yang agak gerimis, air jatuh satu-dua dari langit. Saat kami baru saja menyelesaikan khuwajiban sholat berjamaah, lagi-lagi ada info datang tiba-tiba, yang menembah kami (6 orang) semakin cemas dan risau. Hamidan, sahabat kami dari Malaysia itu mendapat pesan singkat, intinya menerangkan, “Bahwa besok pagi tempat ini mulai direnofasi, dengan mengempur beberapa kamar di lantai bawah”. Muldan, sahabat kami yang punya motto, hidup harus selalu ceria (tapi juga sok rapi, padahal kamarnya tak pernah rapi..), yang kamarnya pertama kali direnofasi, langsung menatapku dan berucap “gimana mz mon, kita jadi ngontrak tidak ni…?” dengan nada amat melas-nya, kala itu raut mukanya sama sekali tidak cocok dengan motto hidup yang selama ini ia banggakan.
Saya yang enam tahunan lebih tua darinya, mencoba untuk tersenyum, seakan dalam hati berkata “tenanglah anak muda, kita akan baik-baik saja”. Walau sebenarnya aku sendiri juga bingung, karena belum ada rencana pasti mau pidah kemana, apalagi mengontarak, wah.. sama sekali belum ada gambaran (memang sebelumnya ada rencana mau ngontrak, tapi belum jelas berapa teman yang mau ngontrak), apa lagi waktu itu, saya cuma pegang uang kurang dari 200rbu, terus terang aku juga resah kala itu. Tapi untuk menenangkan teman saya tadi, saya berkata, “kaalem.. cooy..,seloww.., kita cari kontrakan besok, tapi pastikan dulu berapa temen yang mau ikut kontrak”.
Pagi harinya, akhirnya dapat kepastian, enam orang tersebut, walau tak tersirat, berjanji setia ingin hidup bersama dalam 1-2thn kedepan. Langsung ku cencel sebagian agendaku hari itu, seharin puter-puter kota jogja (memang sebisa mungkin kami ingn tinggal di teritorial kodya). Hari itu banyak pengalaman yang ku dapat, pertama, ternyata memang tidak mudah cari tempat kontrakan. Kedua, di lingkup kodya, rumah kontrakan mahalnya ndak ketulungan, bayangkan saja saudara2, sepetak rumah dengan dua kamar, satu kamar mandi, ada dapur dan sejengkal ruang tamu, harganya rata2 15-20jt/tahun (padahal target kami perorang cuma 1 jta/tahun). Dan ketiga aku baru tahu bahwa masyarakat kota jogja ada yang tidak tahu apa itu UAD dan UIN, pada hal kampus UIN dan UAD ada di kota jogja. Aku cuma bisa tersenyum waktu itu, dan aku tak tahu ini salah siapa.
Seharian berusaha sekuat tenaga, hasilnya nihil. Tidak ada rumah kontrakan yang pas dengan kami (terutama tidak pas/cocok dengan uang yang kami punya). Sore harinya, Faris, teman kami yang asli jawa timur, (yang sekarang sedang sibuk dengan usaha warungnya ditimur JEC. Walau warung belum buka, tapi iklan dah diuplot dimana2. Eh… ini tidak bermaksut mengiklankan juga lho.. sumpah… jangan PeDe loe Res..) juga tidak mendapatkan tempat yang pas buat kami, ia bilang padaku, “wah.. aku yo durong oleh mon, golek kosan wae ki..”,(wah saya juga belum ada info konerakan Mon, cari kossan aja ni) aku hanya bisa bilang, “kaalem  cooy..,seloww.. sabar, masih ada waktu, besok aku cari lagi”, aku berusaha meyakinkan dia, agar dia tetap ikut ngontrak. Karena yang saya tahu, dia sering punya banyak uang, dan rencana saya, dialah yang saya mintai bantuan untuk menalangi kekurangan saya (walau akhirnya saya tau, aku sudah kedahuluan dengan temen yang lain, dan diapun sedang krisis keuangan, karena kekayaannya terkuras diwarung yang ia rintis, “wah..duh,.. dimana lagi ni aku cari biaya itu” keluhku..).
Tidak seperti biasanya, hari masih terlalu muda, biasanya dijam2 itu, aku masih akrap dengan tempat tidurku. Sepagi itu, aku sudah menghidupkan motor yang enam tahun terakhir ini, sangat setia menemani setiap aku pergi. Motor Jepang rakitan 38 tahun lalu itu seakan mendukungku, seakan-akan ia berkata, “tenang-tenanglah sahabatku, kaalem-kalem.. cooy..,seloww…, akan ku antar kemanapun dikau pergi”, dalam hati, aku pun bergumam, “trimakasi2, syukron n matur suwon sobat, tak bisa aku membalas budi baikmu”. Bagaimana tidak mendukung, sekali slah, suara mesin motor (yang tahun ini terancam tidak dibayar pajaknya, karena kurang satu bulan lagi) itu seketika mengusik kenyamanan pagi (biasanya kalau pagi, motor kesayangganku itu 5-10 kali slah baru bisa hidub).
Baru saja aku mau pergi, ada suara memangilku, Sofi, teman kami sarjana UAD (yang belum ada keputusan antara ngontrak dan  ikut sebagian teman lain yang ada jatah tempat), mengajak aku untuk melihat bekas kontrakan teman kampusnya, “siapa tau masih free”, ucapnya. Kamipun segera mendatangi tempat yang dimaksut, tapi sayang tempat itu sudah ada yang mengontrak dua minggu lalu. Namun, waktu kami ingin meningalkan daerah itu, mendadak aku melihat rumah agak kotor, tertutup pitunya dan sepertinya tidak dihuni cukup lama, ingin sekali aku menanyakan apakah rumah itu dikontrakkan atau tidak?. Tapi bertanya pada siapa?, kebetulan lingkungan agak sepi. Entah tadangnya dari mana, tiba-tiba muncul perempuan 60an tahun menghampiri kami, “pados nopo maz?”, (cari apa mas?), aku yang dikagetkan akan kedatangan sekaligus pertanyaanya, lngsung menyaut, “i.. ini buk, bade tanggelet, ngeriyo niki dikontrakkn boten geh?”, “wah.. aku yo kurang faham mas, tapi kemarin iki yo bekas kontrakan, opo cobo takon pak Herman, dia yang mengurusi rumah ini, rumahnya tu disebrang jalan”.

                                          ..inilah Rumah itu..tempat tinggal kami yang baru..
Singkat cerita, saya langsung diel dengan  rumah itu, (rumah yang agak mistik) 5 jta setahun. Rumah dengan 7 kamar tidur, ada dapur, 2 kamar mandi, dan 2 ruang tamu yang cukup untuk menampung 50an orang. Langsung kukirim pesan singkat ketemen2, balsan mereka hamper seragam, “hantunya yg tkut kpda kta kali.. khsusya mz mon… he..33x.. okre…3x!! Suuuuiiipppp”, kubiarkan balasan itu, aku hanya berbisik dalam hati, “dasar gemlung”. Malam harinya kami rapat, rapat yang penuh kehangatan itu, ada kesepakatan per orang harus membayar semampunya untuk DP, dan melunasinya paling lambat dua minggu. Sebagian dari kami segera menghubungi orang tua, (urusan apa lagi kalu bukan urusan minta uang), semuanya memang serba mendadak (kerena sebelumnya info pindah, tidak ada kepastian), denger dari nada bicara mereka, memang ada yang kaget dari seberang sana.
Taufik, yang juga dari Jawa timur, dengan nada seperti anak kecil yang sedang minta mainan, sukses meluluhkan hati orang tuanya. Muldan, dengan bicara khas suka buminya, walau aku sama sekali tidak paham, aku mengerti dari mimik mukanya, bahwa orang tuanya juga kaget, dan sekali lagi kulihat dari wajahnya, motto hidup yang ia banggakan itu, lagi2 tiak berlaku. Sedangkan Muarif, yang asalnya dari luar jawa, kurang beruntung, orang tuanya menyanggupi tiga minggu lagi. Namun otaknya encer, tidak membuang waktu lama2, ia langsung minta bantuan ke Faris (ya.. anak yang kakaknya juga akrab dengan saya inilah, yang mendahului rencana saya, hik..hik..), walau tidak sangup meminjami secara penuh, tapi Fares menyangupi menalangi uang DP. Kala itu Muarif, (yang juga sedang stadi S1 Informatika. Namun aku heran pada mahasiswa yang satu ini, kuliahnya informatika, tapi aku tidak meliahat sekalipun dia ngutak-ngutik memerograman kompiuter, padahal aku serumah dengannya dua tahun lebih, banyangkan saudara-saudara… kupikir anak ini nyasar ngambil jurusan) langsung tersenyum manis pada faris, seakan dia bilang dalam hati, “trimakasih banyak kuhaturkan kepadamu wahai saudaraku, kau bener2 pahlawanku malam ini”.


Beda lagi dengan Ali Sadikin, sahabat kami yang juga luar jawa ini (Sulawesi), Cuma santai saja sedari siang tadi, wajahnya mengabarkan kebahagiyaan. Telisik-punya telisik, pemuda yang punya cita-cita ingin mendirikan Pondok Pesanteren di tanah kelahiranya ini, lebih encer lagi otaknya, selepas dapat kabar dapat kontrakan, ia langsung menghubungi Mz Hariyo (laki-laki seumuran denganku ini, memang juga jadi rujukan bagi temen2 yang cari pinjaman.. termasuk diriku… wahdooh lagi2 aku ketinggalan..), benar saja, dengan sedikit argumentasi, Dikin (pangilan akrap Ali Sadikin), langsung  mendapat pinjaman dari Maz hariyo (Oya.. beliau bulan depan mau nikah lho.., sama gadis yang selama ini jadi pilihanya, asal Kendal…, wahdooh aku jadi ingit, kira2 besok temen2 pada ngado tidak ya…?? Moga2 Cuma bantingan ala kadarnya.. ). Sedangkan diriku, malam itu mencoba untuk tenang (wah gaya ne…), sebab menurut pengalaman hidup yang sudah2, Alhamdulidlah, bila sedang ada masalah model ini, selalu ada jalan keluar (entah itu meminjam atau dengan cara yang lain). Dan malam itu aku tidak begitu risau, (wahdoh.. gayane…gayane…!).
Setelah uang DP kami bayarkan, oleh pemiliknya, kami langsung diijinkan menempati rumah yang salah satu dari kamarnya tidak bolek dibuka itu (alasan sang pemilik sih.. kamar itu adalah gudang). Hari itu juga teman2 dengan suka ria langsung pindahan dengan sewa mobil bak terbuka, akupun ketinggalan karena harus menyelesaikan masalah yang sempet tertunda. Aku pindahan dibagi harinya, dengan meminta salah satu temen untuk membantu mengangkut barang2ku dengan mengunakan motor, dengan akot kuteraktir temanku itu disiang harinya. Setelah semuanya selesai angkut2, kami pun mengadakan pertemuan perdana dikontrakan yang baru, untuk membahas kehidupan selanjutnya di rumah itu. Kamipun sepakat, tidak akan ada rencana berpisah kecuali ijasah/ijabsah telah berada ditanggan kami. Dan mendadak, salah satu dari kami ada yang angkat bicara, seperti calon kepala desa yang sedeng berkampaye didepan warga pendukungnya, “di sini kita lanjutkan kehidupan yang lebih baik, kita akan belajar bareng, tidak membuang2 waktu dengan agenda2 yang tidak bermutu, disini sebisa mungkit kita rancang agenda semacam diskusi2 di sini,.. demi kepentinggan keilmuan kita… jangan sampai kita seperti pemuda yang dibenci pak karno, sebab sukarno pernah bilang, ‘kalau ada pemuda cuma diam saja tidak bergiat memikirkan bangsanya, maka pemuda kayak begini seharusnya digunduli saja kepalanya’, gamana kira2.. setuju tidak..?”, yang lain mangut-mangut, pertanda sepakat, “benar2 gagasan yang patut dihargai sekaligus diabresiasi”, pikirku.
Setelah usai rapat, akupun menuju kamar baruku, segera aku hidupkan Kompiuterku. Baru saja aku mulai asik menulis tulisan ini, ada suara yang jelas2 menggangguku, “maz Mon…! ayo.. teraktir.. teraktir…!”, “wahduh…… inget juga tuh anak..”, gerutuku. Dalam hitungan detik, ia sudah berada dikamarku, “ayo… lapar ni.. teraktir…teraktir..”, kali ini, lagi-lagi aku cuma bisa bilang, “kaalem-kalem.. cooy..,seloww…,”…………??

                    Miliran, Yogyakarta,14-04-2012
                   -Sebuah ilham dari dunia kasat mata-

5 komentar:

  1. ono sing kurang kuwi... ke tempat pak Herman kan dua kali. karo aku njuk karo Faris. bar niliki karo Faris, lagi memutuskan untuk ambil. baru sms teman-teman. ngono tho? hehe,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyo..iyo.. kang bro betuul2.. sori,, nulisnya kesingkat2..

      Hapus
  2. heheh siippzz ...
    semoga di rumah yang baru ni kita bisa mencapai cita2 kita yang selama ini kita kejar ,baik itu cita2 di bidang agama,pendidikan,,ataupun keinginan yang kita ingin kan ,,
    ataupun lagi disinilah kita mendapatkan jodoh ,,hehehe amin..
    ,,dan semoga kita selalu berada dalam lindungan allah swt,,,amiin..

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. rumahnya lama lik..
      penghuninya yang baruu...
      tpi ttap menarikk...

      Hapus