Perpindahan yang syahdu
Awal bulan ini, merupakan
hari-hari yang mencemaskan sebagian dari kami. Bagaimana tidak, berita itu
datang tiba-tiba, padahal kami sudah dua tahunan, belajar, makan, memasak, bercengkrama,
bersendau-gurau, merancang agenda-agenda kegiyatan dan merasakan pahit-manis hidup
bersama, satu atab lagi (wah kok jadi melankolis begini ya..?).
Berawal dari beberapa teman yang di”paksa”
pergi/pindah (termasuk diriku), berlanjut semuanya harus pindah, karena yang
punya tempat akan menempati tempat tsb dalam jangka waktu 2/3 bulan lagi. Bagi
enam orang dari kami, yang tidak mungkin lagi bergabung dengan saudara-saudara
yang lain (yang sudah ada tempat), tambah cemas lagi. Karena kami harus mencari
tempat tinggal sendiri, dan tidak diberi kepastian, kapan yang punya tempat mau
menempati tempat miliknya itu.
Diwaktu makgrib yang agak gerimis,
air jatuh satu-dua dari langit. Saat kami baru saja menyelesaikan khuwajiban
sholat berjamaah, lagi-lagi ada info datang tiba-tiba, yang menembah kami (6 orang)
semakin cemas dan risau. Hamidan, sahabat kami dari Malaysia itu mendapat pesan
singkat, intinya menerangkan, “Bahwa besok pagi tempat ini mulai direnofasi,
dengan mengempur beberapa kamar di lantai bawah”. Muldan, sahabat kami yang
punya motto, hidup harus selalu ceria
(tapi juga sok rapi, padahal kamarnya tak pernah rapi..), yang kamarnya pertama
kali direnofasi, langsung menatapku dan berucap “gimana mz mon, kita jadi
ngontrak tidak ni…?” dengan nada amat melas-nya,
kala itu raut mukanya sama sekali tidak cocok dengan motto hidup yang
selama ini ia banggakan.
Saya yang enam tahunan lebih tua
darinya, mencoba untuk tersenyum, seakan dalam hati berkata “tenanglah anak
muda, kita akan baik-baik saja”. Walau sebenarnya aku sendiri juga bingung,
karena belum ada rencana pasti mau pidah kemana, apalagi mengontarak, wah..
sama sekali belum ada gambaran (memang sebelumnya ada rencana mau ngontrak,
tapi belum jelas berapa teman yang mau ngontrak), apa lagi waktu itu, saya cuma
pegang uang kurang dari 200rbu, terus terang aku juga resah kala itu. Tapi untuk
menenangkan teman saya tadi, saya berkata, “kaalem..
cooy..,seloww.., kita cari kontrakan besok, tapi pastikan dulu berapa
temen yang mau ikut kontrak”.
Pagi harinya, akhirnya dapat
kepastian, enam orang tersebut, walau tak tersirat, berjanji setia ingin hidup
bersama dalam 1-2thn kedepan. Langsung ku cencel sebagian agendaku hari itu,
seharin puter-puter kota jogja (memang sebisa mungkin kami ingn tinggal di
teritorial kodya). Hari itu banyak pengalaman yang ku dapat, pertama, ternyata memang tidak mudah cari tempat kontrakan. Kedua, di lingkup kodya, rumah kontrakan
mahalnya ndak ketulungan, bayangkan saja saudara2, sepetak rumah dengan dua
kamar, satu kamar mandi, ada dapur dan sejengkal ruang tamu, harganya rata2
15-20jt/tahun (padahal target kami perorang cuma 1 jta/tahun). Dan ketiga aku baru tahu bahwa masyarakat
kota jogja ada yang tidak tahu apa itu UAD dan UIN, pada hal kampus UIN dan UAD
ada di kota jogja. Aku cuma bisa tersenyum waktu itu, dan aku tak tahu ini
salah siapa.
Seharian berusaha sekuat tenaga,
hasilnya nihil. Tidak ada rumah kontrakan yang pas dengan kami (terutama tidak pas/cocok
dengan uang yang kami punya). Sore harinya, Faris, teman kami yang asli jawa
timur, (yang sekarang sedang sibuk dengan usaha warungnya ditimur JEC. Walau warung
belum buka, tapi iklan dah diuplot dimana2. Eh… ini tidak bermaksut
mengiklankan juga lho.. sumpah… jangan PeDe loe Res..) juga tidak mendapatkan
tempat yang pas buat kami, ia bilang padaku, “wah.. aku yo durong oleh mon, golek kosan wae ki..”,(wah saya juga
belum ada info konerakan Mon, cari kossan aja ni) aku hanya bisa bilang, “kaalem
cooy..,seloww.. sabar, masih ada waktu, besok aku cari lagi”, aku berusaha
meyakinkan dia, agar dia tetap ikut ngontrak. Karena yang saya tahu, dia sering
punya banyak uang, dan rencana saya, dialah yang saya mintai bantuan untuk menalangi kekurangan saya (walau
akhirnya saya tau, aku sudah kedahuluan dengan temen yang lain, dan diapun
sedang krisis keuangan, karena kekayaannya terkuras diwarung yang ia rintis, “wah..duh,.. dimana lagi ni aku cari
biaya itu” keluhku..).
Tidak seperti biasanya, hari masih
terlalu muda, biasanya dijam2 itu, aku masih akrap dengan tempat tidurku.
Sepagi itu, aku sudah menghidupkan motor yang enam tahun terakhir ini, sangat
setia menemani setiap aku pergi. Motor Jepang rakitan 38 tahun lalu itu seakan
mendukungku, seakan-akan ia berkata, “tenang-tenanglah sahabatku, kaalem-kalem.. cooy..,seloww…, akan ku
antar kemanapun dikau pergi”, dalam hati, aku pun bergumam, “trimakasi2,
syukron n matur suwon sobat, tak bisa
aku membalas budi baikmu”. Bagaimana tidak mendukung, sekali slah, suara mesin motor (yang tahun ini
terancam tidak dibayar pajaknya, karena kurang satu bulan lagi) itu seketika
mengusik kenyamanan pagi (biasanya kalau pagi, motor kesayangganku itu 5-10 kali
slah baru bisa hidub).
Baru saja aku mau pergi, ada suara
memangilku, Sofi, teman kami sarjana UAD (yang belum ada keputusan antara
ngontrak dan ikut sebagian teman lain
yang ada jatah tempat), mengajak aku untuk melihat bekas kontrakan teman
kampusnya, “siapa tau masih free”, ucapnya. Kamipun segera mendatangi tempat
yang dimaksut, tapi sayang tempat itu sudah ada yang mengontrak dua minggu
lalu. Namun, waktu kami ingin meningalkan daerah itu, mendadak aku melihat
rumah agak kotor, tertutup pitunya dan sepertinya tidak dihuni cukup lama,
ingin sekali aku menanyakan apakah rumah itu dikontrakkan atau tidak?. Tapi
bertanya pada siapa?, kebetulan lingkungan agak sepi. Entah tadangnya dari
mana, tiba-tiba muncul perempuan 60an tahun menghampiri kami, “pados nopo maz?”,
(cari apa mas?), aku yang dikagetkan akan kedatangan sekaligus pertanyaanya,
lngsung menyaut, “i.. ini buk, bade
tanggelet, ngeriyo niki dikontrakkn boten geh?”, “wah.. aku yo kurang faham
mas, tapi kemarin iki yo bekas kontrakan, opo cobo takon pak Herman, dia yang
mengurusi rumah ini, rumahnya tu disebrang jalan”.
..inilah
Rumah itu..tempat tinggal kami yang baru..
Singkat cerita, saya langsung diel
dengan rumah itu, (rumah yang agak
mistik) 5 jta setahun. Rumah dengan 7 kamar tidur, ada dapur, 2 kamar mandi, dan
2 ruang tamu yang cukup untuk menampung 50an orang. Langsung kukirim pesan
singkat ketemen2, balsan mereka hamper seragam, “hantunya yg tkut kpda kta kali..
khsusya mz mon… he..33x.. okre…3x!! Suuuuiiipppp”, kubiarkan balasan itu, aku
hanya berbisik dalam hati, “dasar gemlung”. Malam harinya kami rapat, rapat
yang penuh kehangatan itu, ada kesepakatan per orang harus membayar semampunya untuk
DP, dan melunasinya paling lambat dua minggu. Sebagian dari kami segera
menghubungi orang tua, (urusan apa lagi kalu bukan urusan minta uang), semuanya
memang serba mendadak (kerena sebelumnya info pindah, tidak ada kepastian),
denger dari nada bicara mereka, memang ada yang kaget dari seberang sana.
Taufik, yang juga dari Jawa timur,
dengan nada seperti anak kecil yang sedang minta mainan, sukses meluluhkan hati
orang tuanya. Muldan, dengan bicara khas suka buminya, walau aku sama sekali
tidak paham, aku mengerti dari mimik mukanya, bahwa orang tuanya juga kaget,
dan sekali lagi kulihat dari wajahnya, motto hidup yang ia banggakan itu, lagi2
tiak berlaku. Sedangkan Muarif, yang asalnya dari luar jawa, kurang beruntung,
orang tuanya menyanggupi tiga minggu lagi. Namun otaknya encer, tidak membuang
waktu lama2, ia langsung minta bantuan ke Faris (ya.. anak yang kakaknya juga
akrab dengan saya inilah, yang mendahului rencana saya, hik..hik..), walau tidak
sangup meminjami secara penuh, tapi Fares menyangupi menalangi uang DP. Kala
itu Muarif, (yang juga sedang stadi S1 Informatika. Namun aku heran pada
mahasiswa yang satu ini, kuliahnya informatika, tapi aku tidak meliahat sekalipun
dia ngutak-ngutik memerograman kompiuter, padahal aku serumah dengannya dua
tahun lebih, banyangkan saudara-saudara… kupikir anak ini nyasar ngambil
jurusan) langsung tersenyum manis pada faris, seakan dia bilang dalam hati,
“trimakasih banyak kuhaturkan kepadamu wahai saudaraku, kau bener2 pahlawanku
malam ini”.
Beda lagi dengan Ali Sadikin,
sahabat kami yang juga luar jawa ini (Sulawesi), Cuma santai saja sedari siang
tadi, wajahnya mengabarkan kebahagiyaan. Telisik-punya telisik, pemuda yang
punya cita-cita ingin mendirikan Pondok Pesanteren di tanah kelahiranya ini,
lebih encer lagi otaknya, selepas dapat kabar dapat kontrakan, ia langsung
menghubungi Mz Hariyo (laki-laki seumuran denganku ini, memang juga jadi
rujukan bagi temen2 yang cari pinjaman.. termasuk diriku… wahdooh lagi2 aku
ketinggalan..), benar saja, dengan sedikit argumentasi, Dikin (pangilan akrap
Ali Sadikin), langsung mendapat pinjaman
dari Maz hariyo (Oya.. beliau bulan depan mau nikah lho.., sama gadis yang
selama ini jadi pilihanya, asal Kendal…, wahdooh aku jadi ingit, kira2 besok
temen2 pada ngado tidak ya…?? Moga2 Cuma bantingan ala kadarnya.. ). Sedangkan
diriku, malam itu mencoba untuk tenang (wah
gaya ne…), sebab menurut pengalaman hidup yang sudah2, Alhamdulidlah, bila
sedang ada masalah model ini, selalu ada jalan keluar (entah itu meminjam atau
dengan cara yang lain). Dan malam itu aku tidak begitu risau, (wahdoh..
gayane…gayane…!).
Setelah uang DP kami bayarkan,
oleh pemiliknya, kami langsung diijinkan menempati rumah yang salah satu dari
kamarnya tidak bolek dibuka itu (alasan sang pemilik sih.. kamar itu adalah
gudang). Hari itu juga teman2 dengan suka ria langsung pindahan dengan sewa
mobil bak terbuka, akupun ketinggalan karena harus menyelesaikan masalah yang
sempet tertunda. Aku pindahan dibagi harinya, dengan meminta salah satu temen
untuk membantu mengangkut barang2ku dengan mengunakan motor, dengan akot kuteraktir
temanku itu disiang harinya. Setelah semuanya selesai angkut2, kami pun
mengadakan pertemuan perdana dikontrakan yang baru, untuk membahas kehidupan selanjutnya
di rumah itu. Kamipun sepakat, tidak akan ada rencana berpisah kecuali
ijasah/ijabsah telah berada ditanggan kami. Dan mendadak, salah satu dari kami
ada yang angkat bicara, seperti calon kepala desa yang sedeng berkampaye
didepan warga pendukungnya, “di sini kita lanjutkan kehidupan yang lebih baik,
kita akan belajar bareng, tidak membuang2 waktu dengan agenda2 yang tidak
bermutu, disini sebisa mungkit kita rancang agenda semacam diskusi2 di sini,.. demi
kepentinggan keilmuan kita… jangan sampai kita seperti pemuda yang dibenci pak
karno, sebab sukarno pernah bilang, ‘kalau
ada pemuda cuma diam saja tidak bergiat memikirkan bangsanya, maka pemuda kayak
begini seharusnya digunduli saja kepalanya’, gamana kira2.. setuju tidak..?”,
yang lain mangut-mangut, pertanda sepakat, “benar2 gagasan yang patut dihargai
sekaligus diabresiasi”, pikirku.
Setelah usai rapat, akupun menuju
kamar baruku, segera aku hidupkan Kompiuterku. Baru saja aku mulai asik menulis
tulisan ini, ada suara yang jelas2 menggangguku, “maz Mon…! ayo.. teraktir.. teraktir…!”,
“wahduh…… inget juga tuh anak..”, gerutuku. Dalam hitungan detik, ia sudah
berada dikamarku, “ayo… lapar ni.. teraktir…teraktir..”, kali ini, lagi-lagi
aku cuma bisa bilang, “kaalem-kalem..
cooy..,seloww…,”…………??
Miliran, Yogyakarta,14-04-2012
-Sebuah ilham dari dunia kasat mata-


ono sing kurang kuwi... ke tempat pak Herman kan dua kali. karo aku njuk karo Faris. bar niliki karo Faris, lagi memutuskan untuk ambil. baru sms teman-teman. ngono tho? hehe,,
BalasHapusiyo..iyo.. kang bro betuul2.. sori,, nulisnya kesingkat2..
Hapusheheh siippzz ...
BalasHapussemoga di rumah yang baru ni kita bisa mencapai cita2 kita yang selama ini kita kejar ,baik itu cita2 di bidang agama,pendidikan,,ataupun keinginan yang kita ingin kan ,,
ataupun lagi disinilah kita mendapatkan jodoh ,,hehehe amin..
,,dan semoga kita selalu berada dalam lindungan allah swt,,,amiin..
asiikk rumah baru =)
BalasHapusrumahnya lama lik..
Hapuspenghuninya yang baruu...
tpi ttap menarikk...