Modernisasi kemajuan teknologi serta pembangunan di
era abat ini, telah membawa masyarakat kontemporer kita ke dalam berbagai sisi
realitas-realitas baru kehidupan. Seperti, kenyamanan, kesenangan,
keterpesonaan, kesempurnaan penampilan, kebebasan hasrat dll. Dengan kata lain,
kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai pada masa sekarang ini, secara sadar atau
tidak sadar berlahan-lahan namun pasti menyeret kita kedalam keadaan hidup yang
serba peraktis, individualis, dan mudah terjebak dalam kenyamanan-kenyamanan
hidup. Tidak memandang anak-anak atau remaja, dewasa atau orang tua, laki-laki
atau perempuan, dia orang Islam atau non-Islam, seorang aktifis ataupun yang
bukan aktifis.
Akhirnya hasil kemajuan dan modernisasi, dilain sisi
telah mengakibatkan hilangnya realitas-realitas budaya masa lalu (Islam-pen),
beserta kearifan-kearifan masa lampau, yang justeru lebih berharga bagi
terbentuknya diri kita sebagai manusia yang beragama sekaligus beriman pada
Allah Swt. Seperti kedalaman rasa, semangat silaturahmi, spiritualiatas,
semangat moralitas, semangat pengorbanan, tidak tahan atas sebuah proses
(ihtiar) dll. Misalnya dengan maju pesatnya teknologi komonikasi, secara sadar
kita cenderung “menyingkat” silaturohmi dengan sekedar kirim pesan singkat,
telefon, maupun lewat dunia maya, dari pada berkunjung saling berjabat tangan,
dan mengucapkan salam saling mendoakan (budaya Islam-pen) secara bertatab muka.
Atau misalnya dengan kemajuan informasi saat ini, nilai-nilai budaya luar telah
masuk secara mudah ke relung-relung masyarakat kita maupun diri kita, tidak
hanya budaya-budaya pop, gaya hidup yang hedonis, atau model-model busana yang
serba wah, namun juga nilai-nilai kehidupan masyarakat juga terpengaruhi.
Contohnya, sekarang ukuran-ukuran keberhasilan seseorang bukan diukur dari sisi
Agama, akan tetapi diukur dengan sesuatu yang bersifat fisik dan serba
materilistis, tapi diukur dengan macam pekerjaan, jabatan/pangkat, penghasilan,
tempat tinggal, kendaraan atau hal-hal lain yang kasat mata. Misalnya lagi,
dengan kemajuan tersebut, mengiring setiap sendi kehiduapan untuk selalau
berbuat serba cepat, simpel dan cari mudahnya. Contohnya, dalam dunia
pendidikan, kurikulum dibuat agar sebanyak-banyaknya menerima mahasiswa dan
secapatnya meluluskannya (dan mungkin juga kita berada didalamnya).
Dalam dunia pergerakan, penulis sepakat, bahwa
pengaruh-pengaruh buruk Modernisasi, kemajuan teknologi serta hasil pembangunan
dan budaya yang dihasilkan di era abat ini, juga mempengaruhi pola-pola
penyusunan strategi gerakan (juga mempengaruhi karakter SDM-SDM-nya). Dari
gerakan dakwah maupun yang non dakwah, dari gerakan yang ikut parlemaen maupun
yang tidak ikut parlemen. Agar kita memahami permasalahan ini sekaligus
mempunyai jiwa serta mental besar sebagi seorang muslim, tidak mudah terjerumus
dalam kenyamanan-kenyamanan hidup, mampu memanfaatkan segala sesuatu denga
tepat dan sangup menbaca peluang-peluang
untuk sebuah ambisi/cita-cita yang beasar (mengembalikan kehidupan Islam-pen).
Tidak ada cara lain, selain terus belajar demi mengasah kemampuan, memupuk
idialisme ataupun pengorbanan demi harapan besar tsb.
Untuk itu penulis mengangap penting, bahwa kita
berlu menengok kembali sejarah perjuanggan sekaligus memahami secara dalam perjuangan dan pengorbanan para pendahulu
kita khususnya di negri ini. Agar kita dapat melihat jiwa pengorbanan,
idialisme, strategi dan semangat mereka dalam berjuang, tentunya juga untuk
membentengi diri dari pengaruh negative perubahan zaman, semakin percaya,
semakin optimis, pantang menyerah serta dapat mengiklaskan apapun demi sebuah
perjuangan. Tentunya tantangan-tantangan perjuangan dahulu dengan zaman
sekarang berbeda, namun sejarah harus tetab kita fahami bahkan wajib kita
ketahui. Karena seperti yang kita ketahui bersama “tidak ada orang besar kalau
tidak tahu akan nenek buyutnya”, tidak ada Negara yang besar kalau tidak
menghargai jasa-jasa para pahlawanya (sukarno-pen)”. Said Jamaludin Al-Afghany,
pernah berkata “…tidak ada kemulyaan bagi kaum yang tidak mempunyai sejarah,
tidak ada sejarah bagi kaum yang tidak mempunyai penulis-penulis yang sangup
menuliskan dan mencatatkan jasa-jasa para pahlawan-pahlawanya, sehingga menjadi
contoh bagi yang datang kemudian”. Dan kalau kita telisik lepih cermat, 2/3
kandungan Al-quran isinya adalah sejarah.
Selanjutnya perlu diketahui, disini penulis
mengkhususkan sedikit mengulas kembali sejarah tokoh-tokoh Islam nusantara,
yang memang merupakan generasi-generasi pendahulu kita sekaligus ditanah
kelahiran kita, yang bias jadi kurang kita pahami, (atau mungkin belum kita
kenal sama sekali) bagaimana sepak terjang mereka dalam mengarungi
pahit-manisnya perjuangan. Ada banyak tokoh-tokoh nusantara yang memperjuangkan
Islam, Misalnya:
Sebelum
kemerdekaan
-
Fathahillah (Fadhillah Khan Al-Pasai)
-
Syaikh Yusuf Makassar
-
Trunojoyo (Madura)
-
Pangeran Diponegoro
-
Tuanku Imam Bonjol
-
Teuku Umar
-
Syaikh Nawawi Al-Bantani
-
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
-
Syaikh Hasyim Asy’ari
-
Oemar Said Cokroaminoto
-
Kyai Mojo
-
Sentot pawirodherjo
-
K.H. Ahmad Dahlan
-
KH Abdul Wahab Hasbullah
-
K.H. A. Hassan
Paska
kemerdekaan
-
Karto Suweryo
-
Kahar Muzakar
-
K.H Agus Salim
-
Ki Bagus Hadikusumo
-
Muhammad Natsir
-
Buya HAMKA
-
dll.
Contoh
ini cuma sebagaian kecil saja, bila kita lihat dari masa wali songo hinga zaman
paska kemerdekaan akan banyak lagi nama-nama yang juga konsisten tentang
perjuangan Islam. Merupakan keharusan bagi kita untuk mengetahui serta memahami
aktifitas mereka semua tanpa terkecuali di bumi nusantara ini, untuk menambah
bekal dalam meneruskan atau menyempurnakan perjuangan sekaligus pengorbanan
meraka dalam memperjuangkan Islam.
Disini penulis tidak mungkin menulis semua
tokoh-tokoh diatas, tapi cuma membicarakan beberapa tokoh saja, yang saya
anggap mendesak untuk kita pahami bersama, penulis juga tidak panjang lebar
menulis disetiap tokohnya, (tapi yang penulis angap penting), mengenai hal ini,
penulis mencoba mencari hal-hal yang belum diungkapkan (atau sengaja tidak
diungkap) oleh kebanyakan penulis sejarah saat ini, yang telah
dicetak/didiskusikan disekolah-sekolah maupun diforum diskusi-diskusi yang
selama ini sudah kita dapatkan dan temui.
a.
Pangeran
Diponegoro
Pecah perang
jawa atau perang Diponegoro (1825-1830), adalah pengalaman pahit yang dihadapi
oleh kolonoal Belanda dari umat Islam. Kita tidak mengurai sejarah perang itu,
yang akan kita bicarakan disini bagaimana jiwa pangeran Diponegoro digemleng
sehingga menjadi muslim sejati dan mendorongnya memantapkan tekat untuk
berjuang melawan kesewenang-wenangan. Diponegoro kecil mendapat didikan dari
neneknya Ratu Ageng, janda Hamengkubuwono I. janda sultan ini, hidup di Istana
kecil di Tegal Rejo, dalam istana itulah Diponegara dibesarkan. Disana dia
dididik, diajar mengaji qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam. Sang Ratu
mendatangkan ulama-ulama shaleh kedalam istana buat mengajar cucunya, tidak
mendidik Diponegoro kecil dengan gaya keraton mataram yang telah terwarnai oleh
kolonial belanda. Sehingga Islam yang lebih mewarnai hidup sekaligus bersatu
dalam darah dagingnya.
Ajaran-ajaran
tashauf-suni yang dipelopori oleh Imam Al-Gozali, ternyata sangat mempengaruhi
jiwanya. Ajaran tashauf Diponegoro bukan seperti tashauf (yang terkenal dengan
kehiduan sufi) yang difahami orang-orang jawa, yang tidak peduli pada
hiruk-pikuk dunia dan cenderung kelenik. Diponegoro tidak serta-merta
meninggalkan hal-hal yang menjadi kewajipan sebagi seorang muslim. Seperti
dizaman Ibnu Taimiyah yang seorang sufi tapi beliau menyambut pangilan berjihad
fi sabilillah dengan mendaftar sebai prajurit. Atau Sultan Murat I, ayah dari
Sultan Muhammad penakluk Constatinopel, telah meninggalkan singgasana hendak
hidup secara shufi, tetapi setelah didengarnya musuh hendak menyerang
kerajaannya, baginda pulang lagi keistana dan mengambil alih kekuasaan yang
tadinya telah dipasrahkan keputranya, bagindapun terjun kemedan perang untuk
menaklukkan musuh-musuhnya yang menghiyanati janji.[1] Diponegoro
muda pun gemar menjadi musyafir, pergi dari tempat satu ketampat lain untuk
menemui orang alim dan yang dipandang lebih berilmu untuk timintai teladan,
saran sekaligus menjadi murid dari orang-orang tersebut. Beliaupun meninggalkan
gelar-gelar kebangsawanannya, baik gelar Raden, Gusti atau Pangeran. Ia lebih
suka mengunakan gelar syeh sekaligus mengubah namanya menjadi Syeh Abdul Hamid,
dan jauh sebelum naik haji beliau telah menanggalkan busana-busana kebesaran (budaya)
Keraton Mataram, bukan balangkon, daster
yang gemerlap dengan simbul-simbul keraton yang melekat pada diri
Diponegora, tapi beliu lebih suka memakai jubah dan surban. Dalam sejarah
mataram, beliaulah satau-satunya keturunan Sultan yang mengunakan busana Islam.
Tidak hanya itu,
Diponegoro rela “mundur” dari majeles Ragen,[2] karena majelis tersebut, dalam pandanggan
Diponegoro telah kental dengan campur tanggan orang2 kafir belanda. Atas dasar
ini lah perang Diponegoro pecah, dan pemantik/ruh perang itu tidak lain dan
tidak bukan hanya semata-mata karena Islam bukan yang lain. Seperti jawaban
Kyai Mojo waktu ditanya belanda, “tujuan Diponegoro adalah menaikkan derajat
Agama Islam di seluruh tanah jawa.
Setelah perang
Diponegoro, muncul nama R. Ng. Ronggowarsito (1803-1875) Abdi Dalem istana. Ia
seorang pujangga dan penyair, yang berusaha keras membelokkan perhatian
orang-orang jawa dari ajaran-ajaran Islam lewat karya-karyanya, yang pada waktu
itu telah susah payah diperjuangkan Diponegoro. Waktu itu menyebarlah
karya-karya yang isinya mengebiri ajaran Islam, hapuskan pengaruh Arab,
Arabisme tidak sesuai dengan jiwa orang jawa, Dipenogora telah celaka karena
gara-gara belajar ajaran-ajaran dari Arab. Kemudian dikembangkan secara halus
agar Agama Islam yang membawa anasir anti penjajah jadi hilang pengaruhnya di
masyarakat, kalau orang hendak ber-Islam, biarlah Islam kebatinan saja dan
semua Agama itu diangab sama. Setalah nama Diponegoro dikutuk, baru
direhabilitasi kembali setalah timbul gerakan Islam, tetapi masih banyak yang
mencoba meisahkan perjuangan beliau dari yang berbau Islam.[3]
Lalu kalau
Diponegoro dahulu hanya sepakat dan memperjuangkan ajaran-ajaran Islam, bukan
ajaran-ajaran yang datang dari belanda atau yang lain. Lalu dimana dengan
peraturan-peraturan negeri ini yang 70% lebih, merupakan peninggalan kolonial.
Atau bagai mana dengan ajaran pancasila, demokrasi, kapitalime (yang menyeret
masyarakat dalam pusara matrealistis) dll. Yang notabenenya memudarkan
kewibawaan Islam.
b, Muhammad Natsir
Muhammad Natsir adalah
putra kelahiran Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat 17, Juli 1908,
dengan gelar Datuk Sinaro Panjang. Dimata sahabat-sahabatnya beliau merupakan
orang yang penuh sopan santun, rendah hati dan bersuara lembut meskipun
terhadap lawan-lawan politiknya. Ia juga sangat bersahaja dan kadang-kadang
gemar bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya.
Pendidikan agama mulanya diperoleh dari orang tuanya,
kemudian ia masuk Madrasah Diniyah di Solok pada sore hari dan belajar mengaji
Al Qur’an pada malam hari di surau. Pengetahuan agamanya bertambah dalam di
Bandung ketika dia berguru kepada ustaz Abbas Hasan, tokoh Persatuan Islam di
Bandung. Kepribadian A Hasan dan tokoh-tokoh lainnya yang hidup sederhana, rapi
dalam bekerja, alim dan tajam argumentasinya dan berani mengemukakan pendapat
tampaknya cukup berpengaruh pada kepribadian Natsir kemudian. Natsir mendalami
Islam, bukan hanya mengenai teologi (tauhid), ilmu fiqih (syari’ah), tafsir dan
hadis semata, tetapi juga filsafat, sejarah, kebudayaan dan politik Islam. Di
samping itu ia juga belajar dari H. Agus Salim, Syekh Ahmad Soorkati, HOS
Cokroaminoto dan A.M. Sangaji, tokoh-tokoh Islam terkemuka pada waktu itu. Pengalaman
ini semua memperkokoh keyakinan Natsir untuk berjuang dalam menegakkan agama
Islam. Berbeda dengan tokoh pergerakan lainnya, sejak semula Natsir juga
bergerak di bidang dakwah untuk membina kader. Pada mulanya ia aktif dalam
pendidikan agama di Bandung, kemudian mendirikan lembaga Pendidikan Islam
(Pendis) yang mengasuh sekolah dari TK, HIS, Mulo dan Kweekschool yang
dipimpinnya 1932-1942. Di samping itu ia rajin menulis artikel di majalah
terkemuka, seperti Panji Islam, Al Manar, Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat.
Dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan Islam dari serangan kaum
nasionalis yang kurang mengerti Islam seperti Ir. Sukarno dan Dr. Sutomo.
Khusus dengan Sukarno, Natsir terlibat polemik hebat dan panjang antara tahun
1936-1940an tentang bentuk dan dasar negara Indonesia yang akan didirikan.
Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi ala Turki di bawah Kemal
Attaturk dan mempertahankan ide kesatuan agama dan negara. Tulisan-tulisannya
yang mengeritik pandangan nasionalis sekuler Sukarno ini kemudian dibukukan
bersama tulisan lainnya dalam dua jilid buku Capita Selecta.
Sampai disini, kita dapat menggaris bawai bahwa perjuangan ternyata
tidak hanya berbekal semangat belaka. Namun harus menyertakan kemampuan
individu, berupa ilmu, selalu berguru pada orang-orang besar, bertekat baja,
maupun harus mempunya idialisme yang tinggi.selanjutnya berikut ini beberapa
pemikiran-pemikiran M Natsir, yang penteng kita fahami:
-
Agama Islam berbeda dengan agama lain, Islam
mempunyai beberapa bagian aturan yang berkenaan dengan hukum-hukum kenegaraan,
ataupun bermuamalah yang bagian-bagian itu tidak dapat dipisahkan dari agama
Islam itu sendiri. Dalam kata lain kalau kita cermati, Islam tidak dapat
dilaksanakan secara benar kalau tidak ada campur tangan Negara.
-
Islam memang mempunyai sifat “demokratis”, akan
tetapi tidak semata-mata semua ajaranya (hokum-hukum yang sudah tetap/pasti)
ditentukan dengan demokrasi, dimana ketentuan-ketentuanyaditentuakan pada
undian suara “separuh tambah-satu”. Dalam Negara Islam yang bias
dimusyawarahkan itu yang ialah urusan-urusan keduniaan yang belum ada
ketentuannya dalam hokum-hukum agama.
-
Apa bila ada yang bertanya, bagai mana nasip
umat non-Islam, bila Negara macam Indonesia memberlakukan aturan Islam. Maka
kita jawab, umat lain tidak usah kuatir karena Islam melindungi mereka
seluas-luasnya, malah lebih luas lagi bila dibandingkan dengan dari pada apa
yang mungkin diberikan oleh Negara-negara Eropa sekarang kepada agama-agam yang
ada disana. Dan peraturan-peraturan Islam dalam bermuamalah atau tidak ada yang
bertentangan dengan agama lain, dengan berlakunya undang-undang Islam, tidak
akan merusak, ataupun menggangu kepercayaan lain, mereka tidak akan kekurangan
suatu apapun.
-
Tetapi sebaliknya, apa bila ada orang yang tidak
setuju bila Negara itu berhukum dengan hokum-hukum Islam, dengan alasan tidak
mau merusak hati orang-orang non-Islam, sebenarnya (dengan tidak sadar atau
memang disengaja) berlaku zalim pada umat Islam itu sendiri, yang jumlahnya 20
kali lipat dari jumlah orang-orang non-Islam.
-
Masalah Agama dan Negara itu merupakan masallah
yang teramat penting, bukan berari masalah ritual seperti sholat, wudu atau
yang berkenaan dengan ibadah makdoh dan segala tetek-bengeknya tidak penting.
Islam mengatur semuanya, keberhasilan seorang muslim tidak hanya diakirat saja
tapi dunia akhirat[4].
Demikian beberapa
pemikiran M. Natsir, sebetulnya masih banyak pemikiran beliau yang lain termasuk
mengapa M. Natsir pertentangan pemikiran dengan Suekarno, namun terkait ejan
lama direferensi itu memerlukan waktu untuk memahami tulisan tersebut, karna
itu disini hanya ini yang penulis utarakan,.
Inilah contoh sepak-terjang dan
beberapa pemikiran para pendahulu kita yang dapat penulis sampaikan. Harapanya
dengan mengetaui sejarh ini kita dapat meluruskan kembali kisah-kisah, teladan
dan cita-cita meraka kepada generasi saat ini dan tentunya kepada generasi
setelah kita, dari pengaburan-pengaburan atau penghapusan sejarah oleh
orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Dengan ini pula semoga kita dapat
mewarisi, semangat mereka, jiwa besar mereka, pengorbanan mereka dalam
memperjuangkan Islam. Dan yang pasti kita dapat melewati cobaan-cobaan
sekaligus tantangan-tantangan yang hadir dizaman yang serba modernis ini,
sebuah zaman yang menghasilkan kebudayaan-kebudayaan baru yang semakin
menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai transindental ajaran Islam.
Wallahu a’lam bi ash-shawwab.
Daftar
pustaka
1.
Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia (Jakarta,
Bulan Bintang, 1971)
2.
M. Natsir, “Capita Selecta” (Jakarta, Bulan
Bintang, 1945)
3.
Al-wa’ie edisi Mei 2012
4.
Hamka, “Said jamaluddin Al-Afghani,
(Jakarta, Bulan Bintang, 1981)
5.
Yasraf Amir piliang, “Sebuah Dunia yang
dilipat” (Bandung, Mizan, 1998)
6.
Prof. Dr. Hasanu Simon, “Misteri Syeh
Siti Jenar, Peran wali songo dalam mengislamkan Tanah Jawa” (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008)
7.
Salim Fredericks, “Invasi Politik dan
Budaya” (Jakarta, PTI, 2002)
8.
H. Aquib suminto, “Politik Islam Hindia
Belanda” (Jakarta, LP3ES, 1985)
[2]
Majelis ini dibentuk oleh campur tangan colonial yang berfungsi untuk
menjalankan pemerintahan sementara mataram, karena pada waktu itu Sultan
Hamengkubuwono V masih kecil. Majeles itu terdiri dari Pangeran Mangkubumi,
Diponegoro, Ratu Kencono, (ibu Sultan) dan Ratu Agung (nenek Sultan)
[3]
Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia (Jakarta, Bulan Bintang,
1971), hlm. 88
[4]
M. Natsir, “Capita Selecta” (Jakarta, Bulan Bintang, 1945)hal. 490-495


eehh.. soorii.. kawan2, tulisan ini memang blum komplit.. sebetulnya ada beberapa tokoh yg perlu disampakan disini, tpi blum smpat.. maklumlah..
BalasHapus