Rabu, 17 April 2013

SEWINDU


“…terkadang, rasa terombang-ambing yg membuat bimbang akan terus datang. kata-kata mesra menjadi terkunci dan sulit dikeluarkan lagi...”


Aku cepat-cepat meng klik tautan itu, kabar yg menurutku begitu menarik, sebuah info berkenaan dengan seseorang yg beberapa bulan ini begitu mempengaruhi seleraku. Tapi beberapa menit kutungu tautan itu tak Nampak, ku klik lagi, tetap ndak muncul, wah agak geregetan juga. Lantas ku klik ber kali-kali, wah..duh malah muncul tulisan ‘problem lauding page’ dan ‘Unable to connect’ disertai tanda seru didalam persegi tiga warna kuning, wah..wah apa pula tuh artinya.. tanda itu mirip rambu2 dijalan kampungku, bedanya klo dikampungku disertai tulisan yg begitu tidak rapi namun jelas dapat dipahami, “orasah ngebut dab, montor seng kridit tor seng tuku bapakmu we,, nggaayaa….!” (tak usah ngebut2 maz.. motor kriditan dan punyak babak lho.. aja.. somboong..)


Sangat ngak mungkin tulisan itu sama dengan tulisan rambu2 dijalan utama kampungku.. (wah beginilah orang yg ingatannya sangat buruk.. begitu keropotan mengingat-ingat hal2 yg asing) Karena ini modem, jelas2 dibeli dengan uang sendiri, khes lagi.. aku jadi memaki-maki merek yg tertulis anggun di benda mungil itu. Padahal aku terprovokasi dan mengorbankan uang simpananku demi benda tersebut gara2 kata-kata dalam sepanduk “….jaringan anti lelet…”, begitu kurangajar tu iklan, grutuku. Setelah ku utak-utik dan menungu sekitar 15 menitan, muncul juga isi info dalam tautan itu, ku baca dari awal hinga akhir.. wah.. beberapa kali aku tersenyum menikmati susunan kalimat2 itu.. lantas, hal yg sudah biasa terjadi, sebuah inspirasi muncul berkelebat. Segera saya mengkanibal salah satu kalimat dalam tulisan itu dengan pikiran di otakku, lantas ku ketik dengan tergesa hasil kanibal itu:

“Sebab, tetap mencintai pada suasana yg tersulit, merupakan hasil dari komitmen. Walau terkadang, rasa terombang-ambing yg membuat bimbang akan terus datang. kata-kata mesra menjadi terkunci dan sulit dikeluarkan lagi. Namun, ketika komitmen itu tetap rapi terjaga, Itulah pengorbanan dalam kesetiyaan”

Setelah menulis kalimat itu, segera ku hampiri Arsa. Kemarin2 Ia teman satu kamar, sekarang pindah kamar, entah karena apa, padahal sudah kuanggap sebagai adikku. Sekamar 6 bulanan, sering mengantar-jembut kesekolah dan pernah juga mengambilkan Rapornya, mungkin karena itu aku jadi merasa punnya adik laki-laki. Kudapati dia dikamarnya sedang mengerjakan pekerjaan rumah (PR), kubilang padanya “ada Novel baru ni, beli yuk…!,” untuk urusan baca Novel selera kami tidak jauh berbeda. “SEWINDU, ya mas.. wah di jokja belum ada maz”, sautnya. Ba da la.. anak ini sudah tahu rupanya, “lha dah tau po?”, “yo tahu lah mas.. di FB ku di tek teman”.. “woo.. kamu juga dapat tautan itu too”? tanyaku singkat, “ ya mas.., kayaknya juga mahal harganya, 70 ribuan, besok aku pinjem aja ya maz”, jawabnya. 

Wa..duh.. rencanaku gagal ini, biasanya dia langsung memburu tulisan barunya orang Gunung kidul itu,, sekarang saja dia punya 5 judul Novel dengan penulis yg sama, ‘TASARO’. niatku ingin bujuk Arsa untuk beli itu buku, dan saya numpang baca.. kok malah kebalik, “yo wes lah, kayaknya besok aku juga pinjem teman saja”, ucapku sambari meninglkan kamarnya,. Lantas ku dengar suara, “ha..ha.ha…..!” jelas datang dari kamar Arsa.


Sebetulnya saya tidak begitu suka baca Novel, dulu2 saya tak begitu berminat mengkonsumsi yg beginian…. Suweeer..! seingatku Novel yg pertama ku baca sampai khatam berjudul ‘Sang Alkhemis’, itu pun aku tergoda oleh komentarnya Pak Subhan Ahmadi, Guruku dalm membaca Al-Quran, Bapak dua anak ini begitu berapi2 (seperti para aktiwis berorasi di malioboro memprotes RUU Ormas 2 minguan lalu…) berbicara tentang makna Novel yg penulisnya… wah..duh.. lupa lagi aku.. siapa namanya.. kayaknya pake Paulo..paulo gitulah.. lupalah, tak pentenglah siapa penulisnya, yang jelas aku langsung memburu buku itu dan merelakan uang 40an ribu, padahal buku itu sangat tipis untuk sebuah Novel. 

Setelah itu akupun jadi agak ketagian baca Novel, walaupun tidak sembarang Novel kubaca. Biasanya bila ada referensi2 dari teman2, sekaligus bisa baca secara Free, itupun aku pilih2 lagi. Nah.. pada satu saat saya tidak sengaja menemukan Novel yg cukup tebal, kali ini aku tertarik bukan karena referensi dari teman, tetapi itu murni karena ketertarikanku dengan judul novel itu,,, judulnya… wah duh lupa lagi aku… judulnya apa ya.?. maklumlah udah hampir 4 tahunan lalu (saya juga Cuma pinjam) dan kata dalam judul itu bukan dari bahasa Indonesia, tpi dari bahasa sang sekerta, seingatku sih... 

‘Bulan’, ya.. itu arti judul tersebut dalam bahasa Indonesia, klo yg ini bener2 dapat ku pastikan.

Itu buku ‘Tasaro’ yg pertama aku baca,,, buatku isinya cuuakep.. bercerita tentang seorang pendekar perembuan Islam dari china yang berpetualang ke nusantara, dan bertemu dengan salah satu pimpinan kesatuan elite keamanan Raja Majapahit yg beragama berbeda. Lebih kompelinya.. baca sendiri ajalah ya.. (udah berat ni mata, tuk diajak tetap pentelengi layar leptop).

saya suka buku karya mantan wartawan ini, karena tulisan2sannya cenderung sejarah dan petualangan, bahasanya juga tidak berbelit2, mudah dimengerti dan begitu renyah, sederhana apa adanya.. 

Buat teman2 yang ngak terlalu suka cerita romantis/motifasi dengan kalimat dan cerita hiperbola yang terlalu melambungkan angan2, sepertinya karya2 tasaro patut menjadi referensi.. eh..eh.. ini bukan iklan lho.. sumpah.. lha wong saya tidak dapat apa2 kok…..):

3 komentar:

  1. 1. Haha, sorry mas, aku kan pindah kamar utk memanfaatkan ruang yg kosong. :V
    2. Seingatku ada yg sedikit beda itu dari prcakapan saat aku mngrjakan PR, heh, tapi tak apa mas. bagus bagus.. :)

    BalasHapus
  2. ora po2 hiii..hii.. ben gayeng alias ben ramai wae...(d.

    BalasHapus