Minggu, 30 Desember 2012

Antara 2013, kenaikan BBM dan Kaum Kusam


Tak beda jauh dengan tahun2 lalu, beberapa hari sebelum tahun baru ini,, ada beberapa ajakan dari teman untuk buat acara atau ikut acara mereka dimalam tahun baru, dari yang Cuma ngajak nongkrong2 di warong copi samapai pesta bakar2 sambil bercengkrama, nikmati hangat dan pahitnya copi serta menghayati harumnya berbatang-batang rokok. Walau mereka tak bosan2nya mengulang ajakan itu, hinga tulisan ini sempurna ditulis, belum ada satupun kata sepakat tentang rayuan mereka. Bukan hanya aku termasuk salah satu orang yang tak sepakat mengenai hal ini, rasanya tak ada faedahnya ikut2tan berhura-hura hanya untuk merayakan pergantian angka. Sepertinya saya hanya akan berdo’a saja, agar sejarah kekuasaan di nusantara ini terulang lebih cepat.
Sejarah mencatat, dari banyak kekuasaan di nusantara yang berganti2, kekuasaan terpendek adalah kesultanan Demak Bintoro selama + 74 tahun, sementara Indonesia dengan demokrasinya, sekarang belum mencapai 66 thun (eh.. bener ndak ya.. wah lupa… ), menjadi tanda tannya serius, apakah nanti negeri ini mampu melampaui usia Demak Bintoro?. Intinya, ku kira kalian bisa mencerna sendiri maksud saya. Kalau kita cermati selama kurun 66 thn ini, sah2 saja bila ada yang berharab sepeti itu bukan..?, andai kita berfikir barang sejenak tentang 2013 yang akan kita lalui dan kalau kita peduli, seharusnya agenda2 tak bermutu dalam rangka perayaan hajatan tahunan ini, terhapus dari kepala kita.

Jumat, 30 November 2012

Setatus Baru


Ternyata biasa saja, ya.. sangat biasa.. tidak seperti perkiraanku, atau obrolan teman2ku yang dah mendahuluiku. Ada yang bilang, “wah.. lega rasanya”, atau banyak yang berkata, “sekarang jadi begitu nyaman, seperempat tujuan hidup telah tercapai”, ada juga yang berkomentar, “keindahan hidup makin komplit saja, mengapa kok tidak dari dulu2 saja ya..”, (sebetulnya aku sempet tergoda juga waktu itu..) bahkan ada yang berceloteh, seperti temenku Indrian koto, waktu itu ia bilang, (kurang lebih begini) “ wah.. mon, setelah semuanya klar siang tadi, rasanya kayak mau melewati malam pertama saja.. yakin lah kau..”, kala itu aku hanya senyum simpul saja, “emangnya dikau pernah melewati detik-detik kejadian itu” jawapku dalam hati, aku ragu untuk mengucap kalimat itu, mengingat dia secara tidak langsung termasuk guruku juga dalam hal tulis-menulis, karena pemuda yang punya Blog KULI PELABUHAN itu, selalu mencoret-coret hasil tulisanku untuk diperbaiki bila aku menunjukkan hasil tulisanku pada sarjana lulusan Syariah UIN ini. 

Intinya, komentar-komentar itu selalu

Senin, 06 Agustus 2012

“Senyum manis para bujangan”


        
        Sebetulnya, entah mengapa saya kurang begitu nyaman menulis tema seperti ini,(kalau tidak bisa dibilang “anti”, masalahnya temen2 sering juga mancing2 berbicara mengenai hal yg satu ini, sehingga aku terjebak juga ikut2tan membahasnya..). tapi yang jelas tulisan ini tidak membela siapapun.. sumpah… termasuk kaum bujangan.. (makanya.. jangan senang dulu wahai para Bujangan. Tapi teneng-tenang.. saya juga masih bujangan lho mas.. )

KEMBALI


apa kabar duka? 
aku teramat rindu padamu
bagaimana keadaanmu hari ini?

maafkan aku,
dua tahun lalu aku diam-diam pergi
aku pun lupa menutup pintu saat itu
berkenankah kau menerima aku lagi?
aku akan kembaliu..


                                           Pakualaman, 03-03-2012 

Puisi Pertama


         puisi ini, aku temukan tidak sengaja disebuah buku pemikiran Islam, ditulis oleh Wan mohd nor daut, penulis merupakan orang Malaysia. puisi ini ditulis dihalaman 98, sebetulnya buku setebal 474 halama ini banyak terdapat puisi si penulis, namun saya agak kaget, karena puisi ini penulis kutip dari puisinya seorang Indonesia, aktifis 80an-awal 2000an Amin Rais, aku baru pertama kali ini tahu bahwa pak amin rais juga suka tulis puisi, dijaman tahun itu (pemerintahan orde baru) jarang sekali sastrawan, yang mengha silkan karya sekeritis ini.
         sayang nya, penulis buku tidak menyertakan judulnya. puisi ini menyuarakan kritikan terhadap orang-orang Indonesia (masyarakat biasa,para Pelajar, pengusaha,birokrat dan penguasa) yang lambat-laun terjerumus dalam sistim ndak bener kapitalisme. berikut puisi itu: 

BERGURU PADA SEJARAH



Modernisasi kemajuan teknologi serta pembangunan di era abat ini, telah membawa masyarakat kontemporer kita ke dalam berbagai sisi realitas-realitas baru kehidupan. Seperti, kenyamanan, kesenangan, keterpesonaan, kesempurnaan penampilan, kebebasan hasrat dll. Dengan kata lain, kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai pada masa sekarang ini, secara sadar atau tidak sadar berlahan-lahan namun pasti menyeret kita kedalam keadaan hidup yang serba peraktis, individualis, dan mudah terjebak dalam kenyamanan-kenyamanan hidup. Tidak memandang anak-anak atau remaja, dewasa atau orang tua, laki-laki atau perempuan, dia orang Islam atau non-Islam, seorang aktifis ataupun yang bukan aktifis.
Akhirnya hasil kemajuan dan modernisasi, dilain sisi telah mengakibatkan hilangnya realitas-realitas budaya masa lalu (Islam-pen), beserta kearifan-kearifan masa lampau, yang justeru lebih berharga bagi terbentuknya diri kita sebagai manusia yang beragama sekaligus beriman pada Allah Swt. Seperti kedalaman rasa, semangat silaturahmi, spiritualiatas, semangat moralitas, semangat pengorbanan, tidak tahan atas sebuah proses (ihtiar) dll. Misalnya dengan maju pesatnya teknologi komonikasi, secara sadar kita cenderung “menyingkat” silaturohmi dengan sekedar kirim pesan singkat, telefon, maupun lewat dunia maya, dari pada berkunjung saling berjabat tangan, dan mengucapkan salam saling mendoakan (budaya Islam-pen) secara bertatab muka. Atau misalnya dengan kemajuan informasi saat ini, nilai-nilai budaya luar telah masuk secara mudah ke relung-relung masyarakat kita maupun diri kita, tidak hanya budaya-budaya pop, gaya hidup yang hedonis, atau model-model busana yang serba wah, namun juga nilai-nilai kehidupan masyarakat juga terpengaruhi. Contohnya, sekarang ukuran-ukuran keberhasilan seseorang bukan diukur dari sisi Agama, akan tetapi diukur dengan sesuatu yang bersifat fisik dan serba materilistis, tapi diukur dengan macam pekerjaan, jabatan/pangkat, penghasilan, tempat tinggal, kendaraan atau hal-hal lain yang kasat mata. Misalnya lagi, dengan kemajuan tersebut, mengiring setiap sendi kehiduapan untuk selalau berbuat serba cepat, simpel dan cari mudahnya. Contohnya, dalam dunia pendidikan, kurikulum dibuat agar sebanyak-banyaknya menerima mahasiswa dan secapatnya meluluskannya (dan mungkin juga kita berada didalamnya).
Dalam dunia pergerakan, penulis sepakat, bahwa pengaruh-pengaruh buruk Modernisasi, kemajuan teknologi serta hasil pembangunan dan budaya yang dihasilkan di era abat ini, juga mempengaruhi pola-pola penyusunan strategi gerakan (juga mempengaruhi karakter SDM-SDM-nya). Dari gerakan dakwah maupun yang non dakwah, dari gerakan yang ikut parlemaen maupun yang tidak ikut parlemen. Agar kita memahami permasalahan ini sekaligus mempunyai jiwa serta mental besar sebagi seorang muslim, tidak mudah terjerumus dalam kenyamanan-kenyamanan hidup, mampu memanfaatkan segala sesuatu denga tepat dan sangup menbaca  peluang-peluang untuk sebuah ambisi/cita-cita yang beasar (mengembalikan kehidupan Islam-pen). Tidak ada cara lain, selain terus belajar demi mengasah kemampuan, memupuk idialisme ataupun pengorbanan demi harapan besar tsb.
Untuk itu penulis mengangap penting, bahwa kita berlu menengok kembali sejarah perjuanggan sekaligus memahami secara dalam  perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita khususnya di negri ini. Agar kita dapat melihat jiwa pengorbanan, idialisme, strategi dan semangat mereka dalam berjuang, tentunya juga untuk membentengi diri dari pengaruh negative perubahan zaman, semakin percaya, semakin optimis, pantang menyerah serta dapat mengiklaskan apapun demi sebuah perjuangan. Tentunya tantangan-tantangan perjuangan dahulu dengan zaman sekarang berbeda, namun sejarah harus tetab kita fahami bahkan wajib kita ketahui. Karena seperti yang kita ketahui bersama “tidak ada orang besar kalau tidak tahu akan nenek buyutnya”, tidak ada Negara yang besar kalau tidak menghargai jasa-jasa para pahlawanya (sukarno-pen)”. Said Jamaludin Al-Afghany, pernah berkata “…tidak ada kemulyaan bagi kaum yang tidak mempunyai sejarah, tidak ada sejarah bagi kaum yang tidak mempunyai penulis-penulis yang sangup menuliskan dan mencatatkan jasa-jasa para pahlawan-pahlawanya, sehingga menjadi contoh bagi yang datang kemudian”. Dan kalau kita telisik lepih cermat, 2/3 kandungan Al-quran isinya adalah sejarah.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Belum tak kasih judul




Masih seperti pagi yang biasanya, orang2 selalu hilir-mudik di jalan-jalan, dengan berbagai jenis kendaraan yang mereka kendarai. Bila aku memperhatikan hal ini, selalu mengingatkanku pada ibuk-ibuk dan bapak-bapak di Kampungku yang keluar rumah setiap pagi selepas anak-anak kebanggaan mereka berangkat ke Sekolah. Nyaris dapat dipastikan mereka bergi jam 7.30. dan aku tahu tujuan meraka, ya.., merawat tanamannya di Ladang. Tapi di Jalan-jalan ini, aku tak tahu kemana tujuan orang-orang itu pergi. Kerja, kuliah, atau mumgkin ketempat lain?, ah…  tak taulah aku. Yang pasti dapat kurasakan jalan-jalan kota peningalan Ki Ageng Pemanahan (tanah Mataram) ini, semakin padat saja.

Kamis, 26 April 2012


Perpindahan yang syahdu

Awal bulan ini, merupakan hari-hari yang mencemaskan sebagian dari kami. Bagaimana tidak, berita itu datang tiba-tiba, padahal kami sudah dua tahunan, belajar, makan, memasak, bercengkrama, bersendau-gurau, merancang agenda-agenda kegiyatan dan merasakan pahit-manis hidup bersama, satu atab lagi (wah kok jadi melankolis begini ya..?).
Berawal dari beberapa teman yang di”paksa” pergi/pindah (termasuk diriku),  berlanjut semuanya harus pindah, karena yang punya tempat akan menempati tempat tsb dalam jangka waktu 2/3 bulan lagi. Bagi enam orang dari kami, yang tidak mungkin lagi bergabung dengan saudara-saudara yang lain (yang sudah ada tempat), tambah cemas lagi. Karena kami harus mencari tempat tinggal sendiri, dan tidak diberi kepastian, kapan yang punya tempat mau menempati tempat miliknya itu.

Rabu, 25 April 2012

Klaten diawal Maret 2012



Ada yang beda dikampungku hari ini, nuansa yang tidak biasa itu sudah kucium sajak sore tadi, Saat aku datang di kampung ini, tempat dimana aku dilahirkan sekitar 29 tahun yang lalu. Waktu aku memasuki desa, melawati jalan yang kanan kirinya persawahan itu, aku sudah merasakan aroma yang khas, aroma pohon padi yang sudah mulai menguning. Waktu menikmati bau itu, ada semacam perasaan datang. Perasaan yang dapat melupakan sesuatu yang menjemukan, menghilangkan kejengkelan, melenyapkan ketakutan-ketakutan tentang hidup, munculnya sebuah harapan, atau semacam itulah… (atau mungkin juga aku melebih-lebihkan, barang kali…). Tapi, yang jelas aku dapat benar-benar tersenyum sore itu.
Bukan senyum yang dibuat-buat, seperti seyuman para seles yang menawarkan barang daganggannya, yang sering mampir ketempat kerjaku, senyuman sok akrap kepada calon konsumen. Juga bukan senyuman yang simetris, kekiri satu senti dan kekanan satu senti, seperti senyum yang diajarkan oleh para trainer (yang sudah kondang beneran ataupun trainer yang benar-benar bajakan), jujur aku tidak sepakat dengan ajaran mudel ini, senyuman sok ganteng/cantik, sok bahagiya, sok berhasil dan sok imut tentunya (senyuman yang harus dilatih rutin setiap pagi didepan kaca, agar dapat “menyihir” lawan bicaranya). Karena seingat saya, aku pernah menemukan senyuman seorang laki-laki berumur 20an yang tidak simetris, tapi agak condong kearah kiri, namun dengan senyum yang jauh dari simetris itu, ada keindahan yang tidak terkira terpancar dari wajahnya, benar-benar senyuman yang hadir dari keluguan dan kelembutan hati, (aku sangat yakin, senyum itu tidak dilatihnya setiap bangun tidur dipagi hari). Atau juga bukan semacam senyuman gadis-gadis manis di supermarket-supermarket, di Mol-mol atau di tempat-tempat semacamnya, benar-benar senyuman yang syarat dengan pamrih. Sungguh aku merasa “geli” bila melihat senyum yang satu ini. Eh.. maaf, bukan maksut hati membahas macam-macam senyuman dalam tulisan ini. Tapi ini sebagai pelengkap saja, ibarat kita sedang makan, ini sebagai kerupuk...
 

Jumat, 02 Maret 2012

PEMULA

      Teman-teman, ini adalah pertama kalinya aku membuat blog, ibarat seorang bayi yg terlahir ke jagat raya. semuanya masih serba belajar, minum, makan, meminta, merangkak, berjalan dll.(saya yakin kalian dapat membayangkan bagai mana seorang bayi, bahkan buang air kecil/besar pun masih belajar).

      makanya untuk sementara blog ini masih TSSS (teramat sangat sederhana sekali). dan klau aku datang kerumah/kos kalian untuk belajar, mohon diterima dengan senang hati yaa...lebih baik lagi, klau aku datang disediakan kopi.. hiii. untuk itu saya minta do'anya akar blog ini cepat besar dan dewasa, syukur2 kalau udah besar nanti berwajah ganteng sekaligus cerdas kaya Pak Habibi  he.. dan tentunya awat muda, tidak lekas tua, juga kayak pak habibi...  dan bisa berguna sebagaimana mestinya....
matur suwon n syukron pada teman2 yang membujuk, mengusulkan dan yang semacamnya.. agar aku membuat blog.. terutama si Beben yang telah bikin bolg duluan..benricorn.blogspot.com...